Rabu, 01 Agustus 2012

Agustus, Kedelai Bebas Bea Impor

Jakarta | Jum'at, 27 Jul 2012
jurnas.com
KEBIJAKAN penghapusan bea masuk (BM) impor kedelai dari 5 persen menjadi 0 persen akan diterbitkan pada Agustus mendatang yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK). ‘Saat ini, pembahasan terkait BM ini sedang dikaji tim tarif
, kami berharap Agustus nanti sudah langsung berlaku efektif. Untuk mengurangi kecurigaan atas importir yang memainkan harga, kami pun memfasilitasi koperasi yang ingin melakukan importasi kedelai,‘ kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, Kamis, (26/7).
Ia mengemukakan, Kemendag siap membantu koperasi tahu tempe untuk dipertemukan dengan pihak perbankan dalam pembiayaan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan kerja sama.

Menurut Bayu, dilihat dari segi iklim, produktivitas kedelai dalam negeri memang tidak akan bisa menyaingi produksi kedelai di negara-negara eksportir terbesar dunia, seperti Amerika Serikat (AS), Argentina, dan Brazil. Dijelaskannya, persoalan kenaikan harga kedelai ini dialami oleh dunia. ‘Kedelai itu tanaman subtropis, kalau iklim kita tropis memang agak sulit untuk mengembangkan produksinya. Belum lagi, lahan untuk menanam kedelai harus rebutan dengan komoditas tebu dan jagung. Kalau coba naikkan produksi kedelai, maka produksi jagung atau tebu yang jadi turun,‘ujarnya.

Pada tahun 2011 lalu, produksi kedelai dalam negeri mengalami penurunan 6 persen, sedangkan tahun ini mengalami penurunan produksi 8 persen. Maka itu, ke depan yang bisa dilakukan adalah melakukan pengembangan produksi sesuai dengan keunggulan masing-masing negara. Misalnya, menurut Bayu, Indonesia unggul dalam komoditas kedelai hitam di dunia yang digunakan untuk kecap, tapi memang tidak bisa digunakan untuk bahan baku tempe atau tahu.

Selain itu, katanya, China juga dikabarkan menaikkan target impornya dari 57 juta ton menjadi 60-61 juta ton. Sedangkan, Indonesia hanya mengimpor sebanyak 1 juta ton. ‘Kalau dari sisi bisnis, jelas para eksportir kedelai dunia akan lebih mengutamakan China yang konsumsi kedelainya lebih besar dibandingkan negara kita,‘ katanya.
Karena itu, Bayu mengimbau para pedagang agar tidak melakukan sweeping kegiatan usaha tahu tempe. Kendati, katanya, pada pekan pertama Ramadan, permintaan untuk makanan tahu dan tempe cenderung rendah, sehingga dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan pedagang.

‘Kalau mau mogok silakan saja, itu hak mereka. Tapi saya mohon agar tidak perlu melakukan sweeping, sayang Bulan Ramadan seperti ini, tahu tempenya dibuang-buang. Itu benar-benar tidak elok,‘ kata Bayu.

Ia mengemukakan, kenaikan harga tahu maupun tempe di pasaran tidak akan menimbulkan inflasi besar, bahkan nyaris tak ada. Terkecuali bagi komoditas kedelainya sendiri yang bisa berimbas pada kenaikan harga pakan ternak, sehingga berpotensi mengakibatkan kenaikan harga ternak juga.

Kendati demikian, menurut Bayu, ada pertanda baik dari Amerika Serikat (AS) di mana kekeringan terjadi tidak seburuk yang dibayangkan, sehingga dalam 3 hari terakhir harga kedelai di Chicago mengalami penurunan sedikit. Hal ini pun turut berimbas pada harga kedelai di tingkat koperasi tahu tempe mengalami penurunan sekitar Rp200-250.

“Saya berharap mudah-mudahan proses penurunan harga ini bisa berlanjut, apalagi ditambah dengan kebijakan penghapusan bea masuk menjadi 0 persen, yang diharapkan semakin meringankan beban yang ditanggung UKM tahu tempe,‘katanya. Kemarin, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengunjungi para perajin tahu tempe. Kunjungannya ke pabrik tersebut adalah upaya Menko Kesra membujuk para perajin agar kembali memproduksi. Pemerintah berjanji mencarikan jalan ke luar atas persoalan yang membelit para perajin tahu tempe ini. "Saya optimistis harga kedelai bisa turun seperti semula. Saya sudah bertemu dengan Menteri Pertanian dan membicarakan hal ini. Pemerintah sudah menurunkan bea masuk impor dari 5 persen menjadi 0 persen," kata Agung, usai meninjau para perajin tahu tempe di kawasan Cimanggu, Bogor, Kamis (26/7).

Menurut Agung, dengan diturunkannya bea masuk impor ini, ia yakin harga kedelai stabil. Apalagi kedelai impor masih banyak. Ke depan, pemerintah berupaya agar Indonesia bisa swasembada kedelai dengan cara memproduksi sendiri kedelai.

Sementara itu, Kasmono, perajin tahu tempe yang biasa dipanggil Tole (40), mewakili perajin lainnya, menunggu janji pemerintah. Dengan begitu, mereka tidak harus menaikkan harga produknya rata-rata hingga 30 persen. "Masyarakat kan tahunya mahalnya saja. Protes, marah-marah. Padahal penyebabnya harga kedelai impor mahal. Kalau tidak dinaikkan, kami bisa gulung tikar," kata Kasmono.

Agung kembali menambahkan bahwa dengan penurunan bea masuk kedelai, maka harga kedelai akan kembali ke harga awal Rp5,5 ribu per kg. Saat ini harga kedelai mencapai Rp8 ribu per kg. "Penurunan ini bisa menghindari perajin tahu tempe bangkrut. Usaha mereka dapat diselamatkan. Dan pengangguran bisa dihindari," kata Agung. Listya Pratiwi/Vien Dimyati