Tangerang, 14 Oktober 2026 – Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan industri pakan ternak nasional. Di tengah tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, industri pakan terus mendorong pemanfaatan bahan pakan lokal, sekaligus mengembangkan inovasi dan teknologi untuk menjaga efisiensi produksi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak
(GPMT), Tevi Melviana, saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis
Pengembangan Rantai Pasok Pakan Ternak untuk Peningkatan Suplai Bahan Baku
Industri, yang diselenggarakan oleh Direktorat Industri Kemurgi, Oleokimia dan
Pakan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Rabu
(14/10), di Hotel Mercure BSD City, Tangerang. Kegiatan ini diikuti oleh para
pelaku industri pakan.
Tevi menjelaskan, bahan baku impor masih memiliki peran besar dalam
memenuhi kebutuhan industri pakan. Berdasarkan data yang disampaikan, volume
impor bahan baku pakan mencapai sekitar 35% dari total kebutuhan, sementara
dari sisi nilai mencapai 65%. Kondisi ini mendorong industri untuk terus
mencari alternatif bahan baku serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya
lokal tanpa mengabaikan kualitas dan efisiensi produksi.
Sejauh ini, industri pakan telah menyerap berbagai bahan baku lokal yang
tersedia di Indonesia, antara lain jagung, dedak padi (rice bran),
bungkil inti sawit (palm kernel meal/PKM), serta bahan pakan lokal
lainnya. Pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dan formulasi
masing-masing pabrik pakan.
Meski demikian, pemanfaatan bahan baku lokal masih menghadapi sejumlah
tantangan. Beberapa bahan memerlukan penanganan atau proses tambahan sebelum
dapat digunakan secara optimal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya
produksi.
“Sebagai contoh, pemanfaatan PKM dalam formulasi pakan unggas saat ini
hanya sekitar 4–5%. Salah satu tantangannya adalah warna bahan yang cenderung
gelap dan kurang disukai pelanggan. Selain itu, diperlukan penambahan enzim
untuk membantu mengoptimalkan pemanfaatannya, yang tentunya juga menambah biaya
produksi,” jelas Tevi.
Optimalisasi Bahan Lokal Perlu Dukungan Teknologi
Dalam kegiatan yang sama, Prof. Nahrowi dari Centre for Tropical Animal
Studies (CENTRAS), IPB University, turut menyampaikan materi bertajuk
“Optimalisasi Bahan Pakan Lokal Menuju Kemandirian Pakan Indonesia”.
Menurut Nahrowi, bahan pakan lokal memiliki karakteristik dan tingkat pemanfaatan
yang beragam. Sebagian dapat langsung digunakan dalam formulasi pakan,
sedangkan sebagian lainnya perlu melalui proses pengolahan terlebih dahulu agar
kandungan nutrisinya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal oleh ternak.
Ia menilai, Indonesia memiliki potensi sumber bahan pakan energi yang
cukup besar, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam penyediaan sumber
protein. Karena itu, pengembangan bahan pakan lokal berpotensi menjadi salah
satu solusi untuk memperkuat kemandirian pakan nasional, terutama apabila
didukung oleh teknologi pengolahan yang tepat.
Salah satu bahan yang dinilai memiliki potensi adalah PKM. Dengan
produksi di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 6 juta ton, bahan ini
memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber protein dalam
pakan ternak.
“Pertama, kita harus mengubah pola pikir dari sekadar menghitung bahan
menjadi menghitung nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak.
Sebagai contoh, PKM dalam bentuk mentah tersedia melimpah, tetapi perlu
dihidrolisis atau ditingkatkan kualitasnya melalui proses pengolahan agar lebih
banyak nutrisinya dapat dimanfaatkan oleh ternak,” jelas Nahrowi.
Kualitas, Kontinuitas, dan Harga Tetap Menjadi Prioritas
Tevi menyambut baik berbagai hasil penelitian dan inovasi yang
dikembangkan kalangan akademisi untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan
lokal. Kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah dinilai penting
untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Namun, menurutnya, pengembangan bahan pakan lokal perlu mempertimbangkan
aspek teknis dan ekonomis agar dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh
industri. Bahan baku yang potensial tidak cukup hanya tersedia dalam jumlah
besar, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan produksi pakan secara
konsisten.
“Pada prinsipnya, bahan baku yang dapat dimanfaatkan industri harus memenuhi tiga aspek utama, yaitu kualitas yang stabil, suplai yang kontinu, dan harga yang kompetitif,” tegas Tevi. (Ute/GPMT)








