Jumat, 31 Agustus 2018

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Pelajari Ketentuan Bea Cukai

Semarangpos.com, SEMARANG — Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) yang merupakan wadah bagi perusahaan makanan ternak di Indonesia meningkatkan potensi bisnis para anggotanya dengan belajar mengenai bea dan cukai. Organisasi yang yang berdiri sejak 30 Oktober 1976 tersebut pun berkunjung ke Kantor Bea Cukai Tanjung Emas, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/8/2018).
"Kedatangan kami ke sini bermaksud untuk silaturrahmi serta memperkenalkan GPMT sebagai organisasi perusahaan makanan ternak di Indonesia," kata Ketua Umum GPMT Desianto B. Utomo sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, Senin (6/8/2018).
Kunjungan Desianto bersama perwakilan lain GPMT, seperti Ketua GPMT Johan dan Bendahara GPMT Achmad Razak tersebut, disambut Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Heru Purwedi Sembiring beserta para kepala seksi dan pejabat fungsional pemeriksa dokumen (PFPD) bertempat di Ruang Rapat Kepala Kantor Bea CUkai Tanjung Emas.
Sebagai organisasi nasional, tambah Desianto, GPMT memiliki banyak anggota perusahaan yang melaksanakan kegiatan impor bahan baku dan beberapa di antaranya melakukan kegiatan impor di Pelabuhan Tanjung Emas yang merupakan wilayah Pengawasan Bea Cukai Tanjung Emas.
Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Heru Purwedi Sembiring mengapresiasi kunjungan para perwakilan GPMT dan berharap dengan pertemuan tersebut dapat menjembatani para perusahaan yang menjadi anggota GPMT untuk mendapat informasi tentang berbagai aturan di Bea Cukai, sehingga kegiatan bisnis dapat berjalan dengan lancar.

Sumber : Semarangpos/Solopos

Kamis, 02 Agustus 2018

GPMT: Kenaikan Harga Pakan Tidak Ada Campur Tangan Asosiasi Tetapi Diserahkan Sepenuhnya ke Pabrikan


Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menyatakan keputusan penaikan harga pakan ikan diserahkan kepada setiap perusahaan menyusul penguatan dolar Amerika Serikat dan harga bungkil kedelai.
Ketua GPMT Denny D. Indradjaja mengatakan pabrikan bisa saja tidak menaikkan harga jual jika mampu mengombinasikan bungkil kedelai dengan bahan baku alternatif lain, misalnya tepung daging-tulang (meat bone meal/MBM) atau tepung gandum (wheat flour).
Kalaupun harus disesuaikan karena formulasi tak mampu mengejar pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga jual pakan ikan diperkirakan tak tajam.
"Pabrikan pasti berhitung. Kalaupun terjadi [kenaikan harga jual], kami memperhitungkan daya beli pembudidaya, terutama pembudidaya ikan air tawar, seperti patin, lele," kata Denny, Senin (23/4/2018).
Jika melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap greenback, produsen kemungkinan menaikkan harga jual 2-3 bulan lagi. Pasalnya, stok bahan baku yang ada saat ini dibeli 2-3 bulaan lalu, saat kurs rupiah masih di kisaran Rp13.500 per dolar AS. Meskipun demikian, GPMT tidak dapat memperkirakan kapan tepatnya produsen mulai menaikkan harga.
"Kami serahkan kepada masing-masing pabrik," kata Denny.
Sebelumnya, PT Cheil Jedang (CJ) Feed Indonesia berencana menaikkan harga jual pakan ikan bulan depan menyusul kenaikan biaya produksi akibat tren penguatan dolar AS dan lompatan harga bahan baku.
Tren penguatan kurs dolar AS terhadap mata uang Asia terjadi sejak awal tahun seiring dengan peningkatan peluang kenaikan suku bunga the Fed. Mengutip Bloomberg, sepanjang tahun berjalan (year to date) rupiah melemah 2,6% ke posisi Rp13.893 per dolar AS.
Sementara itu, harga kedelai sejak awal tahun hingga pertengahan April naik 10,7% menjadi US$1.064,8 sen per bushel di Chicago Board of Trade (CBOT), terpengaruh oleh penurunan stok global akibat kekeringan di Argentina, produsen kedelai terbesar ketiga di dunia.
Sumber : bisnis

Kamis, 08 Maret 2018

Ratusan Petani Ikan Jangari Cianjur Ramai-ramai Buru Eceng Gondok

Pada kegiatan tersebut terlihat ratusan petani ikan bergotongroyong mengangkat eceng gondok yang memenuhi waduk Cirata.
POJOKJABAR.com, CIANJUR – Upaya meningkatkan hasil panen, ratusan petani ikan di Jangari melakukan aksi bersih-bersih di waduk Cirata, Rabu (28/2/2018).
Pada kegiatan tersebut terlihat ratusan petani ikan bergotong royong mengangkat eceng gondok yang memenuhi waduk Cirata.
Ketua Paguyuban Petani Ikan Cirata (PPIC), Wawan Setiawan mengatakan, adanya kegiatan tersebut karena para petani miris melihat kondisi perairan Cirata saat ini yang banyak ditumbuhi eceng gondok.
“Keberadaan eceng gondok ini dapat mempengaruhi pertimbuhan ikan, sehingga hasil panen ikan terus menurun,” katanya.
Ia menjelaskan, pada kegiatan kali ini hanya beberapa perwakilan petani ke depan setiap hari Jumat semua petani harus membersihkan waduk Cirata ini.
“Saat ini ada dua puluh perahu yang membersihkan di area pinggir genangan dan puluhan perahu lainnya ke tengah genangan. Selain perahu yang bergerak, petani di jaring terapung juga diperintahkan untuk membersihkan eceng gondok di sekitar area jaring terapung,” katanya.
H Abad Mutaqin, seorang petani nelayan mengatakan bahwa keberadaan eceng gondok mengambil oksigen di air, sehingga nafsu makan ikan juga ikut berkurang.
“Kebanyakan negatifnya karena terlalu banyak juga akan menutup sinar matahari di kolam, lalu oksigennya juga bisa berkurang,” ujar Abad.
Seorang petani ikan lainnya, Abah Memet (60) mengatakan, pihaknya saat ini sedang mengupayakan ada pihak yang menampung limbah dari eceng gondok.
“Dalam skala kecil ada yang mengambil untuk dijadikan pupuk organik,” katanya.
Ketua Kelompok Tirta Jangari, Dadan Hamdan mengatakan, kebersihan genangan sangat berpengaruh kepada kenyamanan pengunjung wisata.
“Pengunjung dari Timur Tengah dan Asia mulai ada, namun Eropa belum pernah ada,” katanya.
Ia mengatakan standar untuk menarik wisatawan Eropa satu di antaranya dengan memperindah kawasan wisata satu di antaranya dengan membersihkan daerah genangan.
“Kami juga sedang mengupayakan kawasan wisata baru di tengah pulau daerah genangan,” ujarnya.
Sumber : pojokjabar

Kamis, 25 Januari 2018

Senin, 11 Desember 2017

Budi Daya Akuakultur Baru Tergarap 20 Persen

Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri melantik kepengurusan MAI Korda Lampung di aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Sabtu (9/12).
Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri melantik kepengurusan MAI Korda Lampung di aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Sabtu (9/12).




REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, salah satu keunggulan komparatif Indonesia pada jenis usaha akuakultur yakni budi daya perikanan. Namun, ironisnya pemanfaatan budidaya akuakultur yang potensinya sangat besar di Nusantara ini, hanya mampu tergarap sekitar 20 persen, selebihnya masih tertidur.


"Nilai ekonominya sekitar 200 miliar dolar AS, artinya itu besar sekali Rp 1.700 triliun. Padahal, APBN kita Rp 2.400 triliun apalagi dilihat dari potensi tenaga kerja. Persoalannya, sampai saat ini kita belum bisa menggunakan secara optimal, secara garis besar baru sekitar 20 persen," kata Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof Rokhmin Dahuri seusai pelantikan pengurus MAI Korda Lampung dan Seminar Nasional Akuakultur di Universitas Lampung, Sabtu (9/12).



Potensi yang besar tersebut, ia mengatakan artinya peluang bagi pemerintahan dan rakyat untuk mengejar pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya sekitar lima persen saja, tapi bisa tujuh persen, karena lapangan kerja bisa tercipta lebih luas lagi. Salah satu peluang yang bisa cepat yakni dibudidaya, karena modal relatif kecil.



Ia memaparkan budidaya rumput laut modalnya Rp 40 juta lahannya dua hektare lalu hasilnya Rp 4 juta per orang per bulan. Kedua, rakyat daripada membuat komputer lebih siap budidaya. 



Ketiga, panennya cepat, seperti rumput laut 45 hari sudah panen, kepiting soka enam bulan panen. Jadi solusi jangka pendek budi daya perikanan sangat menawarkan dan menjanjikan. Solusi jangka panjang, berbicara akuakultur bukan hanya protein tapi farmasi, untuk biofuel, jenis industri lain.



Kenapa terhambat, kata dia, karena regulasinya bukan seperti di negara maju pemerintah mendorong kemajuan dan pertumbuhan. Regulasi di zaman sekarang ini seperti LSM yang ekstrem kanan lingkungan, ini tidak boleh, itu tidak boleh. 



Menurut dia, yang dilarang yang ekspor benurnya tapi benih dari Lombok yang lobster itu seharusnya disebarluaskan ke wilayah NKRI untuk dibudidayakan, itu menjadi solusi yang mujarab.



Rokhmin mengatakan, harga udang dalam 10 tahun terakhir ini masih relatif baik, sekitar lima dolar AS ukuran 60 ekor per kilogram, biaya produksi udang per kilogramnya sekitar Rp 37 ribu. Jadi, masih sangat bagus karena permintaan udang masih cukup bagus. 



"Saya optimistis dari segi pasar bagus sekali. Lalu udang bisa diindustrikan, artinya produknya tidak hanya beku atau fresh, tapi bisa dijadikan produk lainnya. Peluang pasanya menganga tinggal kita kemampuan produksinya saja," katanya.



Mengenai penyakit udang yang dikeluhkan petambak, menurutnya hanya kurang disiplin. Ketika di kementerian, ia mengeluarkan SK impor indukan fanamed harus dari Hawai. "Tiba-tiba ada kongkalikong pejabat dan pengusaha yang ingin jalan pintas impor dari Thailand dan Cina, jadi ambruk," ujarnya.



Ia berharap setiap kabupaten mempunyai alat uji sebelum benur (udang) itu disebarkan diketahui apakah mengandung penyakit atau tidak. Benih atau benur itu menentukan 60 persen keberhasilan budidaya, kalau benurnya sudah segar, 60 persen sudah berhasil. Kalau benurnya sudah mengandung penyakit, 60 persen gagal. Kedua, layout tambak, antara input dan output harusnya di tempat berbeda.



Sekarang ini, ujar Rokhmin, banyak petambak masukkan dari satu tempat itu saja. Jadi, padahal pakan yang ditebarkan di tambak yang disebarkan tidak 100 persen jadi udang, ada yang jadi limbah (waste), yang mengeluarkan pencemarkan dirinya sendiri atau limbah organik. 



"Saran saya, ketika air tambak itu keluar, jangan langsung dibuang ke sungai dan laut, harusnya dialirkan dulu ke tambak-tambak yang ada rumput lautnya, ada bandengnya, yang ada moluskanya, karena tiga jenis mahkluk hidup tersebut sifat makannya filterpidder (menyaring air), sehingga airnya yang keluar sudah bersih," papar Rokhmin. 

Sumber : Republika

Senin, 04 Desember 2017

SNI PAKAN IKAN: GPMT Usul Premium dan Suplemen Dibedakan

Bisnis.com, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Makanan Ternak mengusulkan agar standard nasional Indonesia (SNI) dibedakan untuk pakan ikan premium dan untuk pakan ikan tambahan alias suplemen.
Usulan itu merespons rencana pemerintah yang akan menerapkan SNI wajib untuk pakan ikan dari saat ini bersifat sukarela dengan ketentuan kandungan protein minimal 24%.
Ketua GPMT Denny D. Indradjaja mengusulkan SNI pakan ikan premium berlaku untuk pakan berprotein tinggi minimal 25% dengan harga Rp9.000-Rp10.000 per kg. Pakan ini biasanya digunakan oleh pembudidaya ikan berskala besar dan pembudidaya ikan laut, seperti kerapu, kakap putih, dan bawal bintang.
Adapun SNI pakan suplemen berlaku untuk pakan berprotein rendah berkisar 16%-22% dengan harga Rp4.500-Rp5.500 per kg. Pakan ini umumnya digunakan pembudidaya ikan air tawar atau payau berskala tradisional dan semi intensif, seperti bandeng, nila, dan patin.
"Pembagian ini perlu untuk mengakomodasi daya beli pembudidaya ikan berskala besar dan berskala kecil," kata Ketua GPMT Denny D. Indradjaja saat dihubungi, Selasa (4/4/2017).
Ketua Divisi Akuakultur GPMT Haris Muhtadi menambahkan syarat kandungan protein minimal 24% dalam ketentuan SNI sukarela selama ini kurang sesuai dengan kebutuhan pembudidaya berskala kecil.
"Petani (pembudidaya) demi harga dan situasi lapangan biasanya minta pabrik memproduksi pakan dengan kandungan protein 17%," tuturnya.
Para pembudidaya berskala kecil --umumnya membudidayakan ikan-ikan herbivora, seperti bandeng, nila, gurami, dengan makanan utama plankton dan tanaman-- biasanya menggunakan pakan berprotein rendah sebagai campuran.
"Atau, ketika harga ikan rendah dan ikan belum laku dijual, mereka tetap keep ikan di kolam dan diberi pakan protein rendah agar tidak menyedot biaya produksi," jelas Haris.
Sumber : bisnis

Penjualan Pakan Perikanan Semester I/2017 Turun



Bisnis.com, JAKARTA - Di luar perkiraan, penjualan pakan perikanan budi daya turun hampir 11% pada semester I/2017. Pelemahan permintaan pakan udang menjadi pemicu utama.
Data Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan volume penjualan pakan perikanan Januari-Juni hanya 759.552 ton, terpangkas 10,7% dari realisasi periode sama tahun lalu.
Permintaan pakan udang anjlok 37,3% (year on year) menjadi 124.494 ton selama paruh pertama tahun ini. Sementara itu, konsumsi pakan ikan berkurang 2,7% (y-o-y) menjadi 635.058 ton.
Ketua Divisi Akuakultur GPMT Haris Muhtadi membantah dugaan yang menyebutkan penurunan penjualan pakan pabrikan akibat peralihan konsumsi ke pakan ikan mandiri yang digagas pemerintah.
"Di pakan udang tidak ada pakan mandiri, sedangkan pakan ikan relatif tidak turun. Pakan ikan ada pakan mandiri, tetapi jumlahnya juga kecil sekali," katanya kepada Bisnis, Rabu (15/11/2017).
GPMT menduga koreksi permintaan pakan udang berkaitan dengan pelepasan tambak plasma PT Central Proteina Prima Tbk. (CP Prima) menjadi tambak mandiri sejak setahun lalu.
"Farm CP [CP Prima] internal yang dalam kondisi normal bisa menyerap 100.000 ton per tahun, sekarang menjadi nol," kata Haris.
Direktur Pemasaran CP Prima Hendri Laiman mengonfirmasi dugaan itu. Saat dihubungi, dia mengemukakan seluruh penjualan pakan perikanan sebanyak 260.000 ton selama semester I/2017 disumbang oleh penjualan ke pembudidaya-pembudidaya eksternal atau free market.
Kontribusi lebih besar berasal dari pakan ikan, sedangkan permintaan pakan udang turun dan menjadi penyebab stagnasi penjualan pakan CP Prima paruh pertama tahun ini. "Kalau ikan, ada kenaikan sedikit," tutur Hendri.
Sumber : bisnis

Senin, 20 November 2017

GPMT Workshop 2017




Dalam rangka menjalankan amanah Kongres GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Badan Pengurus (BP) beserta beberapa perwakilan dari Komisariat Daerah (Komda) melaksanakan Workshop yang diadakan di Belitung 25-27 Oktober 2017.

        Hadir dalam workshop tersebut Ketua Umum GPMT periode 2016 - 2020, Desianto B. Utomo, empat orang ketua, M. Tevi Melviana, Denny D. Indradjaja, Johan dan Timbul Sihombing serta sekretaris ekskutif Askam Sudin.  Menyukseskan workshop tersebut, hadir pula perwakilan dari Komda Sumatera Utara, Jawa Barat, Lampung, Jawa Timur dan juga Komda Sulawesi dan Kalimantan.

        Yang menarik dari acara workshop ini adalah keterlibatan dua sponsor yaitu FKS Multi Agro dan Transcon Indonesia yang memberikan update bahan baku dunia dan juga informasi seputar fasiltas penyimpanan bahan baku di pelabuhan. Dengan infromasi seputar penyimpanan bahan baku di pelabuhan ini, maka biaya yang tinggi di pelabuhan dapat dikurangi. Diskusi tampak sangat aktif, karena didukung oleh nuansa saling membutuhkan baik dari supplier maupun user. Para sponsor saat ini sudah menjalin kerjasama intensif dengan sebagian besar anggota, sehingga tidak ada lagi “jarak” untuk diskusi dan bertukar pikiran.

        Wokshop ini digelar pertama kalinya sejak kongres berlangsung tahun lalu.  “Sedikit agak terlambat memang, karena kesibukan masing-masing sehingga workshop baru bisa  dilaksanakan sekarang”, kata Desianto. 

        Selain membahas detail serta mengevaluasi dari 18 amanah Kongres yang lalu, workhop kali ini mengusung thema : ‘Facing the Challenges to Secure the Future’. Amanah kongres yang telah dirumuskan saat itu menjadi tugas segenap anggota GPMT untuk menjalankannya demi kebaikan masa mendatang, meskipun banyak sekali tantangan yang dihadapi industri hari ini. Satu-persatu amanah tersebut dibahas dan dievaluasi dan dikaji lagi apakah masih relevan dengan situasi sekarang.

        Beberapa tantangan saat ini seperti kebutuhan jagung, harga ayam dan telur yang masih sering dibawah HPP (baca : Harga Pokok Produksi), AI versi baru, dan masih banyak lagi persoalan yang dihadapi industri menjadikan cambuk untuk lebih meningkatkan efisiensi di tiap perusahaan anggota.
        Anggota harus jeli menghadapi situasi ini supaya bisnis tetap eksis di masa mendatang, sehingga niat baik anggota GPMT untuk memajukan bangsa melalui peningkatan gizi masyarakat akan terwujud.

        Acara ini diakhiri dengan keliling Belitung – Kotanya Laskar Pelangi, serta berkunjung ke rumah adat Belitung sehingga antar anggota menjadi lebih akrab.  Tak lupa mencicipi Mie Belitung serta makanan serta penyajiannya khas Belitung yang ada persamaannya dengan daerah Sumatera Selatan menjadikan acara workshop ini tak terlupakan.