Rabu, 07 November 2018


Produksi Jagung Nasional Terganjal Biaya Transportasi

Sabtu 03 Nov 2018 17:28 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda


Biaya transportasi domestik lebih mahal dibandingkan ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya memenuhi kebutuhan jagung dari produksi dalam negeri tanpa impor. Namun, upaya ini terganjal biaya transportasi
Pada 2018 Kementan mengalokasikan bantuan benih jagung seluas 2,8 juta hektare yang tersebar 33 provinsi, untuk meningkatkan produksi. Sekretaris Jendral Kementan Syukur Irwantoro mengatakan pihaknya juga telah menganggarkan pembangunan pengeringan jagung (dryer) sebanyak 1.000 unit untuk petani.
“Upaya-upaya lain terus kami mendorong kementerian terkait dan pemerintah daerah memperbaiki rantai pasok pemasaran jagung dan membantu resi gudang di daerah agar berfungsi optimal, sehingga petani tetap terpaku pada sistem konvesional pasok jagung,” ujarnya saat konferensi pers di Gedung Kementan, Sabtu (3/11).
Menurutnya, selama ini Kementan juga telah mendorong pemprov membangun buffer storage, yakni menyerap surplus produksi pada waktu puncak panen, dan menyimpannya untuk dilepas kembali pada waktu produksi turun.
Namun kondisi tersebut tidak sejalan dengan biaya transportasi. Berdasarkan catatan Kementan, terdapat perbedaan biaya transportasi tujuan penjualan pasar domestik dan pasar ekspor.
Biaya transportasi dari Tanjung Priok ke Tanjung Pandan lebih mahal dari Priok ke Pelabuhan Port Klang Singapura. Dari Tanjung Priok ke Pelabuhan Tanjung (Belitung) perjalanan tiket untuk mobil angkut 14 ton sebesar Rp 33 juta, belum termasuk biaya solar mobil dan biaya lainnya. "Sementara itu, dari Priok ke Klang Singapura untuk 24-27 ton biayanya sebesar 1.750 dolar AS atau sekitar Rp 26 juta, sudah termasuk dengan pengurusan semua dokumen,” ungkapnya.
Padahal, menurutnya, Kementan telah memastikan produksi jagung nasional pada tahun ini mengalami surplus, bahkan telah melakukan ekspor sebanyak 380ribu ton. “Sejak diberhentikan importasi jagung untuk pakan tahun lalu sebesar 3,5 juta ton, pemerintah telah menghemat devisa sekitar Rp 10 triliun,” ucapnya. 
Sumber :Republika


Kamis, 04 Oktober 2018

Teknologi Informasi untuk Tingkatkan Daya Saing Produk Akuakultur, Seperti Apa?

oleh  di 4 October 2018
Produk akuakultur yang ada di Indonesia, dihimbau untuk bisa meningkatkan daya saingnya hingg ke level tertinggi karena saat ini persaingan dunia perdagangan di dunia sangatlah ketat. Tanpa meningkatkan daya saing, maka produk akuakultur mustahil untuk bisa bersaing dengan produk serupa yang berasal dari negara lain.
Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto, untuk bisa menghasilkan produk berdaya saing yang tinggi, maka diperlukan dukungan yang kuat dari teknologi yang efisien, mutu produk yang terjamin, dan rantai sistem produksi yang efisien dari hulu ke hilir.
“Serta sumber daya manusia (SDM) maupun mesin yang efisien,” ucapnya di Jakarta, pekan lalu.
Slamet menerangkan, dengan kehadiran teknologi digital yang mumpuni, maka itu akan menciptakan efisiensi mata rantai pasok industri perikanan dan juga sekaligus terciptanya pemberdayaan bagi pembudidaya skala kecil. Kehadiran teknologi, juga akan memotong rantai bisnis yang panjang saat distribusi produk perikanan budidaya dilakukan.
Adapun, rantai bisnis yang panjang tersebut, biasanya selalu dimulai dari pembudidaya ikan sampai berakhir di tangan konsumen. Ketergantungan dengan rantai bisnis yang panjang tersebut, mengakibatkan akumulasi margin dalam komponen harga banyak dibebankan kepada konsumen. Kebiasaan itu, harus diubah untuk meningkatkan daya saing produk akuakultur.
Jika mengadopsi teknologi digital, Slamet menyebutkan, para pembudidaya akan bisa memasarkan produknya langsung ke konsumen tanpa harus melewati rantai pasok yang panjang. Jika itu bisa diwujudkan, maka biaya transaksi juga pada akhirnya menjadi lebih murah dan pada akhirnya biaya margin bisa ditekan seminimal mungkin kepada konsumen.
“Pada akhirnya, pembudidaya ikan akan menikmati harga jual yang lebih baik, sementara konsumen juga mendapatkan harga jauh lebih murah dibandingkan sebelumnya,” tuturnya.
Melihat ada manfaat untuk pembudidaya dan konsumen, Slamet mengatakan, KKP terus mendorong pembudidaya untuk menerapkan akuakultur berbasis teknologi digital untuk e-commerce. Adapun, tujuannya adalah, memperpendek rantai distribusi yang tidak efisien karena mendekatkan produsen ikan dengan pasar ritel (eceran), dan memberikan kepastian harga di pembudidaya ikan dan konsumen.
Kemudian, tujuan berikutnya, adalah meningkatkan konektivitas serta menghilangkan batas jarak, ruang dan waktu untuk menyediakan sarana input dan pasar dalam pengembangan industrisasi akuakultur, dan menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat.
Industri 4.0
Pemanfaatan teknologi e-commerce dalam distribusi produk akuakultur, menurut Slamet Soebjakto, juga menjadi peluang yang bagus bagi pembudidaya ikan di Nusantara. Mengingat, saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan seperti persaingan global melaui era revolusi industri ke-4 atau dikenal dengan sebutan Industri 4.0.
“Isu utama yang diangkat dalam era ini yaitu daya saing dan produktivitas,” sebutnya.
Berkaitan dengan industri 4.0 tersebut, Slamet menjelaskan bahwa saat ini sedang terjadi transformasi industrialisasi akuakultur menuju otomatisasi dan digitalisasi. Adapun, perubahan itu meliputi transformasi dari berorientasi pada eksploitasi sumberdaya alam (SDA) menunju efisiensi SDA, jasa dan peningkatan nilai tambah dan produktivitas.
Kemudian, transformasi dari penggunaan unskilled tenaga kerja menuju penciptaan lapangan kerja yang benar-benar diperuntukkan bagi SDM terlatih. Dengan demikian, lapangan kerja untuk unskilled tenaga kerja pada akhirnya dapat berkurang. Terakhir, transformasi dari kondisi akses pasar yang terbatas dan daya saing produk yang rendah menuju akses pasar yang terbuka luas (hyper koneksi), berdaya saing tinggi dan manajemen yang efisien.
Menurut Slamet, kehadiran teknologi informasi akan dirasakan banyak manfaatnya jika memang digunakan dengan benar oleh para pembudidaya ikan. Termasuk, untuk mendapatkan informasi ketersediaan benih unggul, pakan, sarana dan prasarana produksi perikanan budidaya.
“Teknologi informasi dapat mengefisienkan rantai distribusi, sehingga harga jual di tingkat konsumen lebih murah dari pasar tradisional,” ucapnya.
Contoh inovasi digital yang sudah dilakukan dalam industri akuakultur adalah terciptanya Minapoli oleh seorang anak muda bernama Rully Setya Purnama. Inovasi tersebut berperan sebagai hub jaringan informasi dan bisnis perikanan. Menurut Rully, teknologi itu tujuan untuk memperluas dan memperkuat sekaligus sinergi jaringan industri perikanan.
Selain Minapoli, teknologi lain yang ikut meramaikan transformasi industri akuakultur di Indonesia, adalah E-fishery, Iwa-Ke, fisHby, Jala, InFishta dan Growpal. E-fishery adalah teknologi pintar yang berperan sebagai solusi pemberian pakan yang mudah dan efisien dan sekaligus mengintegrasikan pemberian pakan dengan metode continuous feeding untuk memenuhi pola makan udang yang terus menerus.
Kemudian, Iwa-Ke adalah start up aplikasi pemasaran beragam ikan seperti ikan nila merah, patin dan gurami. Adapun, sarana yang dipakai antara lain Go-Jek, Iwa-Ke Depot, dan mitra pembudidaya yang luasnya sudah mencapai lebih dari 60 hektare dan jaringan pembudidaya di berbagai provinsi.
Sementara, FisHby merupakan start up digital akuakultur untuk menggalang dana yang dibutuhkan pembudidaya untuk kemudian menyalurkannya sesuai dengan perjanjian di awal. Kemudian, Jala adalah solusi bertambak udang yang menawarkan sistem manajemen terkini, dengan berbasis data, untuk membantu petambak membuat keputusan manajemen yang tepat berdasarkan informasi aktual yang terjadi di tambak.
Pencarian Modal
Dalam hal investasi akuakultur, start up berbasis digital seperti InFishta membantu pencarian modal invertasi perikanan yang dapat berdampak sosial sehingga membantu pembudidaya ikan untuk mendapatkan sumber modal, sekaligus mendapatkan keuntungan. Kemudian, Growpal memberikan peluang untuk membuat perubahan secara sosial melalui penanaman investasi dengan keuntungan yang menjanjikan di sektor perikanan dan kelautan.
Koordinator Manajemen Program Digital Amoeba Telkom Fauzan Feisal mengatakan, untuk mendukung digitalisasi sektor-sektor ekonomi di Indonesia, salah satunya dimulai dari sektor agribisnis, Telkom memulai pembangunan jaringan kerja digitalisasi dengan industri perikanan budidaya. Upaya tersebut, bertujuan untuk mengangkat industri akuakultur menjadi lebih besar dan efisien.
Pemanfaatan teknologi digital sendiri, menurut Slamet Soebjakto, sudah diterapkan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) seperti sistem perizinan daring melalui aplikasi kegiatan usaha bisnis akuakultur (AKUBISA) yang meliputi izin pemasukan ikan hidup (SIAPIH), izin pengangkutan ikan hidup hasil budidaya (SIKPI), serta rekomendasi pembudidayaan ikan penanaman modal (RPIPM).
Kemudian, pemanfaatan teknologi informasi melalui inovasi teknologi untuk mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi usaha perikanan budidaya dan meningkatan daya saing produksi melalui aplikasi pemanfaatan autofeeder, penerapan budidaya sistem bioflok, serta budidaya sistem keramba jaring apung (KJA) lepas pantai yang berbasis pada teknologi digital.
“Kita bersyukur, di era digitalisasi saat ini telah lahir banyak sekali startup di kalangan anak-anak muda kreatif termasuk sebagai startup di bidang teknologi digital di bidang akuakultur, dimana mereka mampu menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat,” ujar dia.
Dengan pengembangan teknologi yang dilakukan start up, Slamet menyebutkan, di masa mendatang bisnis akuakultur akan mampu berdaya saing dan tidak ketinggalan dari sektor-sektor lainnya dalam pemanfaatan teknologi digital. Selain itu, juga mendorong percepatan pemanfaatan potensi ekonomi sumber daya akuakultur bagi kemajuan perekonomian secara nasional.
Ketua Komtap Industri Pengolahan Makanan dan Protein Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Thomas Darmawan mengatakan, konsumsi prosuk ikan per kapita di Indonesia pada 2018 mencapai angka sebesar 43,88 kilogram/kapital/tahun. Dengan jumlah tersebut, dibutuhkan peran teknologi informasi berbasis e-commerce seperti Go-Food, GoBox, Blibli, Tokopedia, dan lain-lain.
“Untuk menjadi eksportir perikanan yang handal serta Feed to The World(penyumbang makanan bagi dunia), sangat diperlukan peran industri digital untuk menciptakan produk masa depan, seperti ditampilkan produk dengan inovasi baru, produk-produk siap saji dan pengolahan dan pengemasan terstandardisasi,” papar dia.
Sumber : Mongabay

Jumat, 31 Agustus 2018

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Pelajari Ketentuan Bea Cukai

Semarangpos.com, SEMARANG — Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) yang merupakan wadah bagi perusahaan makanan ternak di Indonesia meningkatkan potensi bisnis para anggotanya dengan belajar mengenai bea dan cukai. Organisasi yang yang berdiri sejak 30 Oktober 1976 tersebut pun berkunjung ke Kantor Bea Cukai Tanjung Emas, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/8/2018).
"Kedatangan kami ke sini bermaksud untuk silaturrahmi serta memperkenalkan GPMT sebagai organisasi perusahaan makanan ternak di Indonesia," kata Ketua Umum GPMT Desianto B. Utomo sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, Senin (6/8/2018).
Kunjungan Desianto bersama perwakilan lain GPMT, seperti Ketua GPMT Johan dan Bendahara GPMT Achmad Razak tersebut, disambut Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Heru Purwedi Sembiring beserta para kepala seksi dan pejabat fungsional pemeriksa dokumen (PFPD) bertempat di Ruang Rapat Kepala Kantor Bea CUkai Tanjung Emas.
Sebagai organisasi nasional, tambah Desianto, GPMT memiliki banyak anggota perusahaan yang melaksanakan kegiatan impor bahan baku dan beberapa di antaranya melakukan kegiatan impor di Pelabuhan Tanjung Emas yang merupakan wilayah Pengawasan Bea Cukai Tanjung Emas.
Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Heru Purwedi Sembiring mengapresiasi kunjungan para perwakilan GPMT dan berharap dengan pertemuan tersebut dapat menjembatani para perusahaan yang menjadi anggota GPMT untuk mendapat informasi tentang berbagai aturan di Bea Cukai, sehingga kegiatan bisnis dapat berjalan dengan lancar.

Sumber : Semarangpos/Solopos

Kamis, 02 Agustus 2018

GPMT: Kenaikan Harga Pakan Tidak Ada Campur Tangan Asosiasi Tetapi Diserahkan Sepenuhnya ke Pabrikan


Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menyatakan keputusan penaikan harga pakan ikan diserahkan kepada setiap perusahaan menyusul penguatan dolar Amerika Serikat dan harga bungkil kedelai.
Ketua GPMT Denny D. Indradjaja mengatakan pabrikan bisa saja tidak menaikkan harga jual jika mampu mengombinasikan bungkil kedelai dengan bahan baku alternatif lain, misalnya tepung daging-tulang (meat bone meal/MBM) atau tepung gandum (wheat flour).
Kalaupun harus disesuaikan karena formulasi tak mampu mengejar pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga jual pakan ikan diperkirakan tak tajam.
"Pabrikan pasti berhitung. Kalaupun terjadi [kenaikan harga jual], kami memperhitungkan daya beli pembudidaya, terutama pembudidaya ikan air tawar, seperti patin, lele," kata Denny, Senin (23/4/2018).
Jika melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap greenback, produsen kemungkinan menaikkan harga jual 2-3 bulan lagi. Pasalnya, stok bahan baku yang ada saat ini dibeli 2-3 bulaan lalu, saat kurs rupiah masih di kisaran Rp13.500 per dolar AS. Meskipun demikian, GPMT tidak dapat memperkirakan kapan tepatnya produsen mulai menaikkan harga.
"Kami serahkan kepada masing-masing pabrik," kata Denny.
Sebelumnya, PT Cheil Jedang (CJ) Feed Indonesia berencana menaikkan harga jual pakan ikan bulan depan menyusul kenaikan biaya produksi akibat tren penguatan dolar AS dan lompatan harga bahan baku.
Tren penguatan kurs dolar AS terhadap mata uang Asia terjadi sejak awal tahun seiring dengan peningkatan peluang kenaikan suku bunga the Fed. Mengutip Bloomberg, sepanjang tahun berjalan (year to date) rupiah melemah 2,6% ke posisi Rp13.893 per dolar AS.
Sementara itu, harga kedelai sejak awal tahun hingga pertengahan April naik 10,7% menjadi US$1.064,8 sen per bushel di Chicago Board of Trade (CBOT), terpengaruh oleh penurunan stok global akibat kekeringan di Argentina, produsen kedelai terbesar ketiga di dunia.
Sumber : bisnis

Kamis, 08 Maret 2018

Ratusan Petani Ikan Jangari Cianjur Ramai-ramai Buru Eceng Gondok

Pada kegiatan tersebut terlihat ratusan petani ikan bergotongroyong mengangkat eceng gondok yang memenuhi waduk Cirata.
POJOKJABAR.com, CIANJUR – Upaya meningkatkan hasil panen, ratusan petani ikan di Jangari melakukan aksi bersih-bersih di waduk Cirata, Rabu (28/2/2018).
Pada kegiatan tersebut terlihat ratusan petani ikan bergotong royong mengangkat eceng gondok yang memenuhi waduk Cirata.
Ketua Paguyuban Petani Ikan Cirata (PPIC), Wawan Setiawan mengatakan, adanya kegiatan tersebut karena para petani miris melihat kondisi perairan Cirata saat ini yang banyak ditumbuhi eceng gondok.
“Keberadaan eceng gondok ini dapat mempengaruhi pertimbuhan ikan, sehingga hasil panen ikan terus menurun,” katanya.
Ia menjelaskan, pada kegiatan kali ini hanya beberapa perwakilan petani ke depan setiap hari Jumat semua petani harus membersihkan waduk Cirata ini.
“Saat ini ada dua puluh perahu yang membersihkan di area pinggir genangan dan puluhan perahu lainnya ke tengah genangan. Selain perahu yang bergerak, petani di jaring terapung juga diperintahkan untuk membersihkan eceng gondok di sekitar area jaring terapung,” katanya.
H Abad Mutaqin, seorang petani nelayan mengatakan bahwa keberadaan eceng gondok mengambil oksigen di air, sehingga nafsu makan ikan juga ikut berkurang.
“Kebanyakan negatifnya karena terlalu banyak juga akan menutup sinar matahari di kolam, lalu oksigennya juga bisa berkurang,” ujar Abad.
Seorang petani ikan lainnya, Abah Memet (60) mengatakan, pihaknya saat ini sedang mengupayakan ada pihak yang menampung limbah dari eceng gondok.
“Dalam skala kecil ada yang mengambil untuk dijadikan pupuk organik,” katanya.
Ketua Kelompok Tirta Jangari, Dadan Hamdan mengatakan, kebersihan genangan sangat berpengaruh kepada kenyamanan pengunjung wisata.
“Pengunjung dari Timur Tengah dan Asia mulai ada, namun Eropa belum pernah ada,” katanya.
Ia mengatakan standar untuk menarik wisatawan Eropa satu di antaranya dengan memperindah kawasan wisata satu di antaranya dengan membersihkan daerah genangan.
“Kami juga sedang mengupayakan kawasan wisata baru di tengah pulau daerah genangan,” ujarnya.
Sumber : pojokjabar

Kamis, 25 Januari 2018

Senin, 11 Desember 2017

Budi Daya Akuakultur Baru Tergarap 20 Persen

Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri melantik kepengurusan MAI Korda Lampung di aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Sabtu (9/12).
Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri melantik kepengurusan MAI Korda Lampung di aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Sabtu (9/12).




REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, salah satu keunggulan komparatif Indonesia pada jenis usaha akuakultur yakni budi daya perikanan. Namun, ironisnya pemanfaatan budidaya akuakultur yang potensinya sangat besar di Nusantara ini, hanya mampu tergarap sekitar 20 persen, selebihnya masih tertidur.


"Nilai ekonominya sekitar 200 miliar dolar AS, artinya itu besar sekali Rp 1.700 triliun. Padahal, APBN kita Rp 2.400 triliun apalagi dilihat dari potensi tenaga kerja. Persoalannya, sampai saat ini kita belum bisa menggunakan secara optimal, secara garis besar baru sekitar 20 persen," kata Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof Rokhmin Dahuri seusai pelantikan pengurus MAI Korda Lampung dan Seminar Nasional Akuakultur di Universitas Lampung, Sabtu (9/12).



Potensi yang besar tersebut, ia mengatakan artinya peluang bagi pemerintahan dan rakyat untuk mengejar pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya sekitar lima persen saja, tapi bisa tujuh persen, karena lapangan kerja bisa tercipta lebih luas lagi. Salah satu peluang yang bisa cepat yakni dibudidaya, karena modal relatif kecil.



Ia memaparkan budidaya rumput laut modalnya Rp 40 juta lahannya dua hektare lalu hasilnya Rp 4 juta per orang per bulan. Kedua, rakyat daripada membuat komputer lebih siap budidaya. 



Ketiga, panennya cepat, seperti rumput laut 45 hari sudah panen, kepiting soka enam bulan panen. Jadi solusi jangka pendek budi daya perikanan sangat menawarkan dan menjanjikan. Solusi jangka panjang, berbicara akuakultur bukan hanya protein tapi farmasi, untuk biofuel, jenis industri lain.



Kenapa terhambat, kata dia, karena regulasinya bukan seperti di negara maju pemerintah mendorong kemajuan dan pertumbuhan. Regulasi di zaman sekarang ini seperti LSM yang ekstrem kanan lingkungan, ini tidak boleh, itu tidak boleh. 



Menurut dia, yang dilarang yang ekspor benurnya tapi benih dari Lombok yang lobster itu seharusnya disebarluaskan ke wilayah NKRI untuk dibudidayakan, itu menjadi solusi yang mujarab.



Rokhmin mengatakan, harga udang dalam 10 tahun terakhir ini masih relatif baik, sekitar lima dolar AS ukuran 60 ekor per kilogram, biaya produksi udang per kilogramnya sekitar Rp 37 ribu. Jadi, masih sangat bagus karena permintaan udang masih cukup bagus. 



"Saya optimistis dari segi pasar bagus sekali. Lalu udang bisa diindustrikan, artinya produknya tidak hanya beku atau fresh, tapi bisa dijadikan produk lainnya. Peluang pasanya menganga tinggal kita kemampuan produksinya saja," katanya.



Mengenai penyakit udang yang dikeluhkan petambak, menurutnya hanya kurang disiplin. Ketika di kementerian, ia mengeluarkan SK impor indukan fanamed harus dari Hawai. "Tiba-tiba ada kongkalikong pejabat dan pengusaha yang ingin jalan pintas impor dari Thailand dan Cina, jadi ambruk," ujarnya.



Ia berharap setiap kabupaten mempunyai alat uji sebelum benur (udang) itu disebarkan diketahui apakah mengandung penyakit atau tidak. Benih atau benur itu menentukan 60 persen keberhasilan budidaya, kalau benurnya sudah segar, 60 persen sudah berhasil. Kalau benurnya sudah mengandung penyakit, 60 persen gagal. Kedua, layout tambak, antara input dan output harusnya di tempat berbeda.



Sekarang ini, ujar Rokhmin, banyak petambak masukkan dari satu tempat itu saja. Jadi, padahal pakan yang ditebarkan di tambak yang disebarkan tidak 100 persen jadi udang, ada yang jadi limbah (waste), yang mengeluarkan pencemarkan dirinya sendiri atau limbah organik. 



"Saran saya, ketika air tambak itu keluar, jangan langsung dibuang ke sungai dan laut, harusnya dialirkan dulu ke tambak-tambak yang ada rumput lautnya, ada bandengnya, yang ada moluskanya, karena tiga jenis mahkluk hidup tersebut sifat makannya filterpidder (menyaring air), sehingga airnya yang keluar sudah bersih," papar Rokhmin. 

Sumber : Republika

Senin, 04 Desember 2017

SNI PAKAN IKAN: GPMT Usul Premium dan Suplemen Dibedakan

Bisnis.com, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Makanan Ternak mengusulkan agar standard nasional Indonesia (SNI) dibedakan untuk pakan ikan premium dan untuk pakan ikan tambahan alias suplemen.
Usulan itu merespons rencana pemerintah yang akan menerapkan SNI wajib untuk pakan ikan dari saat ini bersifat sukarela dengan ketentuan kandungan protein minimal 24%.
Ketua GPMT Denny D. Indradjaja mengusulkan SNI pakan ikan premium berlaku untuk pakan berprotein tinggi minimal 25% dengan harga Rp9.000-Rp10.000 per kg. Pakan ini biasanya digunakan oleh pembudidaya ikan berskala besar dan pembudidaya ikan laut, seperti kerapu, kakap putih, dan bawal bintang.
Adapun SNI pakan suplemen berlaku untuk pakan berprotein rendah berkisar 16%-22% dengan harga Rp4.500-Rp5.500 per kg. Pakan ini umumnya digunakan pembudidaya ikan air tawar atau payau berskala tradisional dan semi intensif, seperti bandeng, nila, dan patin.
"Pembagian ini perlu untuk mengakomodasi daya beli pembudidaya ikan berskala besar dan berskala kecil," kata Ketua GPMT Denny D. Indradjaja saat dihubungi, Selasa (4/4/2017).
Ketua Divisi Akuakultur GPMT Haris Muhtadi menambahkan syarat kandungan protein minimal 24% dalam ketentuan SNI sukarela selama ini kurang sesuai dengan kebutuhan pembudidaya berskala kecil.
"Petani (pembudidaya) demi harga dan situasi lapangan biasanya minta pabrik memproduksi pakan dengan kandungan protein 17%," tuturnya.
Para pembudidaya berskala kecil --umumnya membudidayakan ikan-ikan herbivora, seperti bandeng, nila, gurami, dengan makanan utama plankton dan tanaman-- biasanya menggunakan pakan berprotein rendah sebagai campuran.
"Atau, ketika harga ikan rendah dan ikan belum laku dijual, mereka tetap keep ikan di kolam dan diberi pakan protein rendah agar tidak menyedot biaya produksi," jelas Haris.
Sumber : bisnis