Rabu, 14 Oktober 2026

GPMT: Ketersediaan Bahan Baku, Kunci Keberlanjutan Industri Pakan Nasional


Tangerang, 14 Oktober 2026
– Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan industri pakan ternak nasional. Di tengah tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, industri pakan terus mendorong pemanfaatan bahan pakan lokal, sekaligus mengembangkan inovasi dan teknologi untuk menjaga efisiensi produksi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis Pengembangan Rantai Pasok Pakan Ternak untuk Peningkatan Suplai Bahan Baku Industri, yang diselenggarakan oleh Direktorat Industri Kemurgi, Oleokimia dan Pakan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Rabu (14/10), di Hotel Mercure BSD City, Tangerang. Kegiatan ini diikuti oleh para pelaku industri pakan.

Tevi menjelaskan, bahan baku impor masih memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan industri pakan. Berdasarkan data yang disampaikan, volume impor bahan baku pakan mencapai sekitar 35% dari total kebutuhan, sementara dari sisi nilai mencapai 65%. Kondisi ini mendorong industri untuk terus mencari alternatif bahan baku serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal tanpa mengabaikan kualitas dan efisiensi produksi.

Sejauh ini, industri pakan telah menyerap berbagai bahan baku lokal yang tersedia di Indonesia, antara lain jagung, dedak padi (rice bran), bungkil inti sawit (palm kernel meal/PKM), serta bahan pakan lokal lainnya. Pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dan formulasi masing-masing pabrik pakan.

Meski demikian, pemanfaatan bahan baku lokal masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa bahan memerlukan penanganan atau proses tambahan sebelum dapat digunakan secara optimal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya produksi.

“Sebagai contoh, pemanfaatan PKM dalam formulasi pakan unggas saat ini hanya sekitar 4–5%. Salah satu tantangannya adalah warna bahan yang cenderung gelap dan kurang disukai pelanggan. Selain itu, diperlukan penambahan enzim untuk membantu mengoptimalkan pemanfaatannya, yang tentunya juga menambah biaya produksi,” jelas Tevi.

Optimalisasi Bahan Lokal Perlu Dukungan Teknologi

Dalam kegiatan yang sama, Prof. Nahrowi dari Centre for Tropical Animal Studies (CENTRAS), IPB University, turut menyampaikan materi bertajuk “Optimalisasi Bahan Pakan Lokal Menuju Kemandirian Pakan Indonesia”.

Menurut Nahrowi, bahan pakan lokal memiliki karakteristik dan tingkat pemanfaatan yang beragam. Sebagian dapat langsung digunakan dalam formulasi pakan, sedangkan sebagian lainnya perlu melalui proses pengolahan terlebih dahulu agar kandungan nutrisinya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal oleh ternak.

Ia menilai, Indonesia memiliki potensi sumber bahan pakan energi yang cukup besar, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam penyediaan sumber protein. Karena itu, pengembangan bahan pakan lokal berpotensi menjadi salah satu solusi untuk memperkuat kemandirian pakan nasional, terutama apabila didukung oleh teknologi pengolahan yang tepat.

Salah satu bahan yang dinilai memiliki potensi adalah PKM. Dengan produksi di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 6 juta ton, bahan ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber protein dalam pakan ternak.

“Pertama, kita harus mengubah pola pikir dari sekadar menghitung bahan menjadi menghitung nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak. Sebagai contoh, PKM dalam bentuk mentah tersedia melimpah, tetapi perlu dihidrolisis atau ditingkatkan kualitasnya melalui proses pengolahan agar lebih banyak nutrisinya dapat dimanfaatkan oleh ternak,” jelas Nahrowi.

Kualitas, Kontinuitas, dan Harga Tetap Menjadi Prioritas

Tevi menyambut baik berbagai hasil penelitian dan inovasi yang dikembangkan kalangan akademisi untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal. Kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah dinilai penting untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Namun, menurutnya, pengembangan bahan pakan lokal perlu mempertimbangkan aspek teknis dan ekonomis agar dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh industri. Bahan baku yang potensial tidak cukup hanya tersedia dalam jumlah besar, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan produksi pakan secara konsisten.

“Pada prinsipnya, bahan baku yang dapat dimanfaatkan industri harus memenuhi tiga aspek utama, yaitu kualitas yang stabil, suplai yang kontinu, dan harga yang kompetitif,” tegas Tevi. (Ute/GPMT)

Kamis, 01 Oktober 2026

GPMT Ikuti NSM Crop Tour 2026 di Amerika Serikat


Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), melalui perwakilan Divisi Akuafeed, mengikuti NSM Crop Tour pada 21-25 September 2026 di Amerika Serikat. Kegiatan ini mencakup kunjungan ke fasilitas penelitian, lahan pertanian, pabrik pengolahan kedelai, serta terminal ekspor di Minnesota, South Dakota, dan Washington.

Keikutsertaan dalam kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi GPMT untuk mempelajari produksi dan penanganan kedelai secara langsung, berdiskusi mengenai perkembangan penelitian nutrisi, serta memahami dukungan logistik bagi pasokan bahan baku pakan ke Indonesia.

Northern Soy Marketing (NSM) menyelenggarakan Crop Tour untuk mempertemukan mitra dagang dengan pelaku rantai pasok kedelai, mulai dari petani hingga fasilitas ekspor. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya NSM memperkenalkan kualitas kedelai yang dibudidayakan di wilayah utara AS dan mendorong penilaian mutu berdasarkan kandungan asam amino esensial, selain kadar protein kasar. Sumber: Northern Soy Marketing.

Mengamati Penelitian dan Produksi di Tingkat Petani

Rangkaian kegiatan pada 21 September diawali dengan diskusi bersama USSEC serta kunjungan ke plot penelitian kedelai dan laboratorium University of Minnesota di St. Paul. Pembahasan mencakup kualitas kedelai dan kebutuhan pasar, termasuk pentingnya profil asam amino, kecernaan, serta ketertelusuran bahan baku.

Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke farm di Danvers, Minnesota. Perwakilan GPMT berkesempatan melihat peralatan panen dan fasilitas penanganan hasil pertanian, sekaligus berdiskusi langsung mengenai praktik produksi di tingkat petani.

Mempelajari Pengolahan Kedelai dan Inovasi Bahan Baku Akuafeed

Pada 22 September, kunjungan ke pabrik AGP di Dawson memberikan gambaran mengenai pengolahan kedelai menjadi bungkil dan minyak, serta keterhubungannya dengan jaringan distribusi dan ekspor. Diskusi turut membahas pengaruh pertumbuhan permintaan minyak kedelai terhadap perkembangan kapasitas pengolahan dan pasokan bungkil.

Pada hari yang sama, GPMT mengikuti kunjungan ke fasilitas penelitian dan pengembangan Houdek di Brookings, South Dakota. Salah satu materi yang relevan bagi industri akuafeed adalah pemanfaatan fermentasi untuk meningkatkan konsentrasi protein kedelai dan menurunkan faktor antinutrisi.

Peserta juga meninjau fasilitas pengujian pakan ikan dalam sistem resirkulasi. Kunjungan ini memberikan wawasan mengenai proses evaluasi bahan baku, mulai dari kecernaan hingga pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan kesehatan ikan.

Mendalami Nilai Nutrisi Bungkil Kedelai

Kegiatan pada 23 September berlanjut di South Dakota State University melalui diskusi penelitian nutrisi ternak dan peninjauan fasilitas penelitian. Pembahasan menekankan pentingnya menilai bungkil kedelai berdasarkan jumlah asam amino tercerna dan energi yang dapat dimanfaatkan ternak.

Bagi industri pakan, pendekatan tersebut relevan dalam membandingkan bahan baku dan menghitung biaya formulasi. Bahan dengan harga pembelian lebih rendah belum tentu menghasilkan biaya pakan yang lebih efisien apabila kontribusi nutrisi dan pengaruhnya terhadap performa ternak berbeda.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke farm dan fasilitas elevator Central Farmers Cooperative di Colton untuk melengkapi pemahaman mengenai produksi, pengumpulan, dan penanganan biji-bijian.

Meninjau Jalur Ekspor Menuju Asia

Pada 25 September, perwakilan GPMT mengikuti kunjungan ke fasilitas ekspor AGP di Port of Grays Harbor, Washington. Kegiatan ini memperlihatkan aliran produk dari kereta, penyimpanan di terminal, hingga pemuatan ke kapal.

Paparan mengenai pengembangan terminal memberikan gambaran tentang dukungan infrastruktur bagi ekspor bungkil kedelai ke Asia. Ketersediaan ruang penyimpanan, kapasitas pemuatan, dan jadwal pengapalan merupakan aspek yang relevan bagi industri pakan dalam mengevaluasi keandalan pasokan dan biaya sampai tujuan.

Melalui rangkaian NSM Crop Tour 2026, GPMT memperoleh informasi langsung mengenai mutu bahan baku, inovasi pengolahan, dan rantai pasok kedelai. Wawasan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi anggota GPMT dalam mengevaluasi sumber protein dan mendukung efisiensi produksi pakan di Indonesia. DM/GPMT

Jumat, 25 September 2026

Industri Pakan Hadapi Tekanan Bahan Baku dan Nilai Tukar, Efisiensi Jadi Kunci

 


Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, membagikan pandangannya mengenai tantangan dan strategi bisnis industri pakan dalam seminar Indonesian Poultry Club bertajuk “Feed Business Indonesia 2026: Challenge & Strategy”. Kegiatan yang digagas Majalah TROBOS Livestock dan Asosiasi Permindo tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara ILDEX Indonesia 2026 yang berlangsung di ICE BSD City pada 17 September 2026.

Dalam paparannya, Tevi menyoroti sejumlah tantangan yang tengah dihadapi industri pakan, terutama terkait ketersediaan dan harga bahan baku. Selain itu, biaya bahan bakar, plastik, serta pergerakan nilai tukar rupiah juga turut memberikan tekanan terhadap biaya produksi pakan.

Menurut Tevi, struktur biaya produksi pakan sangat dipengaruhi oleh bahan baku yang porsinya mencapai sekitar 85% dari total biaya. “Secara volume, bahan baku impor mencapai 35%, tetapi secara value mencapai 65%. Karena itu, kenaikan harga bahan baku dunia, dinamika situasi global, dan nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap biaya produksi. Belum lagi harga jagung, yang porsinya mencapai 40–46% dalam formulasi pakan, turut mengalami tekanan akibat fenomena El Niño,” jelasnya.

Di hadapan para peternak yang hadir dalam seminar, Tevi menegaskan bahwa industri pakan terus berupaya memenuhi kebutuhan pakan secara berkelanjutan. Salah satu langkah yang dilakukan feedmill adalah reformulasi, yakni menyesuaikan komposisi bahan baku dengan tetap memperhatikan kualitas nutrisi, efisiensi biaya, dan kebutuhan ternak.

Sementara itu, Direktur Pakan, Tri Melasari, dalam paparannya turut menekankan pentingnya efisiensi pakan melalui optimalisasi penggunaan bahan pakan substitusi. “Kami berharap baik industri maupun peternak dapat mendorong pemanfaatan bahan pakan lokal guna mengurangi ketergantungan impor, menekan biaya pakan, dan tetap menjaga kualitas nutrisi,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Tevi menyambut baik dorongan terhadap pemanfaatan bahan pakan lokal. Menurutnya, setiap inovasi yang dapat mendukung efisiensi produksi pakan akan mendapat dukungan dari industri, sepanjang memenuhi persyaratan dasar bahan pakan.

“Ada tiga kriteria utama yang harus dipenuhi, yaitu kualitas yang stabil, pasokan yang kontinu, dan harga yang kompetitif,” tegas Tevi.

Selain Tevi Melviana dan Tri Melasari, seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara yang membagikan wawasan mengenai perkembangan industri perunggasan nasional. Para narasumber yang hadir antara lain Corporate Secretary PT Berdikari, Ketua Umum Perindo, Key Account Manager Alltech Indonesia, serta Technical Director Animal Protein East Asia dari USSEC.

Berbagai pandangan yang disampaikan dalam seminar tersebut menunjukkan bahwa efisiensi, inovasi formulasi, dan penguatan pemanfaatan bahan pakan lokal menjadi bagian penting dari strategi industri pakan dalam menghadapi dinamika biaya produksi dan tantangan global. Ute/GPMT

Rabu, 02 September 2026

Raih Predikat Cumlaude dengan IPK 3,98, Ketua Umum GPMT Tevi Melviana Resmi Sandang Gelar Magister dari Unsoed

 


Kabar membanggakan datang dari Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Ir. Tevi Melviana, M.Pt, IPU, ASEAN Eng, yang resmi menyelesaikan studi pascasarjananya di Program Magister Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Langkah akademis ini menegaskan komitmennya dalam menyelaraskan pengalaman industri dengan landasan ilmiah demi kemajuan sektor peternakan nasional.
Berdasarkan Keputusan Rektor Unsoed, Tevi Melviana (Nomor Induk D2B025008) lulus yudisium pada 30 Juli 2026 dengan predikat cumlaude dan IPK 3,98 pada Wisuda Periode Ke-162.

Riset dan Kepemimpinan Industri

Dalam studinya, Tevi mengangkat tesis bertajuk "Analisis Dampak Kebijakan Larangan Impor Jagung Terhadap Fluktuasi Biaya Produksi dan Harga Pakan di Industri Feedmill" yang krusial bagi stabilitas harga pakan. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU, ASEAN Eng dan Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt, M.Sc, Ph.D, IPU, ASEAN Eng.
Pencapaian ini melengkapi perannya sebagai Ketua Umum GPMT periode 2026–2028 yang terpilih pada Mei 2026 lalu. Civitas akademika Unsoed, termasuk Koordinator Program Magister dan Dekan Fapet Unsoed, mengapresiasi tinggi dedikasi serta integritas Tevi dalam merampungkan studinya tepat waktu di tengah kesibukan organisasi. Gelar baru ini diharapkan kian memperkuat kontribusinya bagi ketahanan pangan nasional.

Rabu, 06 Mei 2026

Kongres Luar Biasa GPMT 2026 Resmi Tetapkan Tevi Melviana Sebagai Ketua Umum Baru




Surabaya, 5 Mei 2026 — Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) telah menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB) pada 5 Mei 2026 di Surabaya, Jawa Timur, sebagai tindak lanjut atas pengunduran diri Ketua Umum, Desianto Budi Utomo, yang disampaikan pada 18 Maret 2026 karena alasan kesehatan.

Melalui forum KLB yang berlangsung secara musyawarah mufakat dan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi, Tevi Melviana terpilih sebagai Ketua Umum GPMT yang baru. Sebelumnya, Tevi menjabat sebagai Ketua di GPMT.

Pergantian ini merupakan bagian dari keberlanjutan organisasi dengan tetap menjaga stabilitas kepemimpinan. Dengan terpilihnya Tevi sebagai Ketua Umum, salah satu posisi Ketua dalam struktur kepengurusan kini dijabat oleh Wesly Manullang, mengingat GPMT menganut sistem kolektif kolegial. Dengan demikian, susunan Badan Pengurus Inti GPMT yang terdiri dari 1 Ketua Umum dan 4 Ketua hingga tahun 2028 adalah sebagai berikut:

Ketua Umum : Tevi Melviana
Ketua : Johan
Ketua : Prasetyo
Ketua : Wesly Manullang
Ketua : Deny Mulyono

GPMT menegaskan bahwa organisasi dijalankan berdasarkan prinsip kepemimpinan kolektif kolegial, di mana setiap keputusan strategis dihasilkan melalui musyawarah dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh jajaran pengurus.

“Keberlanjutan kepemimpinan ini mencerminkan soliditas organisasi serta komitmen GPMT dalam menjaga stabilitas dan arah strategis industri pakan ternak nasional,” ujar Sekretaris Jenderal GPMT sekaligus Ketua Pelaksana KLB GPMT 2026, Yetti Liza.

GPMT menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Desianto Budi Utomo atas dedikasi dan kontribusinya selama menjabat sebagai Ketua Umum, khususnya dalam memperkuat peran industri pakan ternak sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional.

Dengan kepemimpinan yang berkesinambungan, GPMT akan terus melanjutkan berbagai program strategis organisasi, termasuk penguatan daya saing industri, peningkatan kualitas dan standar produksi, serta kolaborasi aktif dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Dalam sambutannya sebagai Ketua Umum terpilih, Tevi menyampaikan, “GPMT akan terus berperan sebagai mitra strategis dalam mendorong industri pakan ternak yang berkelanjutan dan berdaya saing.”



Kontak Media:
Sekretariat GPMT
Telp: +62 21 84590227

Rabu, 10 Desember 2025

Pabrik Pakan Ikan dan Udang: Fungsi, Proses, Bahan Baku, dan Peran Penting



Industri budidaya ikan dan udang berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani. Agar produktivitas tetap tinggi, pakan berkualitas menjadi faktor paling penting dalam keberhasilan budidaya. Di balik pakan yang digunakan pembudidaya, terdapat peran besar pabrik pakan akuakultur yang memastikan pakan aman, bernutrisi, dan konsisten.

Fungsi Pabrik Pakan Ikan dan Udang

1. Menghasilkan pakan sesuai kebutuhan spesies

Setiap jenis ikan dan udang membutuhkan formula nutrisi yang berbeda. Pabrik menyesuaikan komposisi pakan berdasarkan karakter pertumbuhan, ukuran, dan umur.

2. Menjamin mutu dan keamanan

Melalui standar seperti SNI, GMP, dan HACCP, pabrik memastikan pakan bebas kontaminan, ukuran seragam, dan stabil di air.

3. Meningkatkan efisiensi budidaya

Pakan berkualitas menurunkan FCR (Feed Conversion Ratio), mempercepat panen, serta menekan biaya produksi.

4. Mengembangkan inovasi nutrisi

Pabrik modern melakukan riset bahan baku alternatif, probiotik, dan aditif yang meningkatkan ketahanan ikan dan udang terhadap penyakit.

Proses Produksi Pakan Akuakultur

1. Formulasi Nutrisi

Tim nutrisionis menentukan komposisi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan spesies.

2. Pencampuran (Mixing)

Semua bahan dicampur secara homogen agar nutrisi merata di setiap butir pelet.

3. Penggilingan (Grinding)

Bahan digiling menjadi partikel halus sehingga pelet lebih padat dan mudah dicerna.

4. Conditioning & Extrusion/Pelleting

Campuran dipanaskan lalu dicetak menjadi bentuk pelet, crumble, atau micropellet.

5. Pengeringan & Pendinginan

Pelet dikeringkan untuk menurunkan kadar air, sehingga lebih awet dan stabil.

6. Coating (Minyak & Vitamin)

Pakan dilapisi minyak ikan atau minyak nabati untuk meningkatkan energi dan aroma.

7. Pengemasan

Pakan dikemas dalam karung 20–50 kg dan disimpan pada suhu serta kelembapan terkontrol.

Bahan Baku Utama Pakan Ikan dan Udang

Sumber Protein Hewani

  • Tepung ikan (fish meal)
  • Tepung udang
  • Tepung cumi
  • Hydrolyzed marine protein

Sumber Protein Nabati

  • Soybean meal (SBM)
  • Canola meal
  • Corn gluten meal (CGM)
  • Wheat gluten

Sumber Energi

  • Minyak ikan
  • Minyak kedelai
  • Minyak kanola
  • Tepung gandum

Aditif Pakan

  • Vitamin dan mineral
  • Probiotik
  • Enzim
  • Antioksidan
  • Immunostimulant

Peran Penting Pabrik Pakan

1. Menopang Ketahanan Pangan

Pakan berkualitas memastikan ketersediaan ikan dan udang yang cukup untuk kebutuhan konsumsi.

2. Mengurangi Ketergantungan Impor

Pabrik lokal membantu menekan biaya impor pakan dan bahan baku.

3. Mendorong Efisiensi Budidaya

Pakan yang baik menurunkan biaya operasional dan meningkatkan hasil panen.

4. Mendukung Keberlanjutan

Teknologi ekstrusi, pengurangan fish meal, dan penggunaan bahan ramah lingkungan menjaga ekosistem laut tetap sehat.

5. Meningkatkan Daya Saing Ekspor

Kualitas pakan berpengaruh langsung pada kualitas udang dan ikan ekspor.


Sumber Referensi


_dibuat dengan AI_

Senin, 24 November 2025

Pabrik Pakan Ayam: Fungsi, Proses, Bahan Baku, dan Peran Penting


 Pabrik pakan ayam (feed mill) merupakan bagian penting dalam rantai produksi unggas. Pakan menyumbang proporsi terbesar dari biaya produksi, sehingga pengolahan pakan yang efisien dan berkualitas mampu meningkatkan produktivitas peternakan secara signifikan. Artikel ini mengulas pengertian, bahan baku, proses produksi, peralatan, manfaat, serta tantangan yang berkaitan dengan pabrik pakan ayam.

Apa itu pabrik pakan ayam?

Pabrik pakan adalah fasilitas industri yang mengolah bahan baku seperti jagung, bungkil kedelai, premix vitamin-mineral, hingga asam amino menjadi produk pakan jadi berbentuk pelet, mash, atau crumble. Pabrik modern dirancang untuk menghasilkan formulasi nutrisi yang presisi dan kapasitas produksi besar.

Hal-hal yang berhubungan dengan pabrik pakan ayam

1. Bahan baku utama

  • Jagung (sumber energi)
  • Dedak / bekatul
  • Bungkil kedelai (SBM), bungkil kacang, bungkil biji lainnya
  • Corn gluten meal (CGM), DDGS
  • Tepung ikan, meat bone meal (MBM)
  • Wheat & wheat bran
  • Premix vitamin & mineral
  • Asam amino sintetis (Lysin, Methionine, dll.)
  • Minyak (minyak sawit, minyak kedelai)

2. Mesin & peralatan utama

  • Hammer mill / grinder (penggilingan)
  • Double-shaft mixer
  • Pellet mill
  • Cooler
  • Crumblers
  • Silo, bin, conveyor, bucket elevator
  • Sistem batching & timbangan otomatis

3. Proses produksi pakan

  1. Penerimaan & penyimpanan bahan baku: bahan diuji kualitasnya dan ditempatkan di silo.
  2. Pembersihan: sieve & magnet menghilangkan kotoran/logam.
  3. Grinding: penggilingan menjadi ukuran partikel seragam.
  4. Mixing: pencampuran dengan formulasi nutrisi tertentu.
  5. Conditioning & pelleting: pencetakan pakan pelet menggunakan uap.
  6. Cooling: pendinginan pelet agar stabil.
  7. Crumbling: untuk menghasilkan pakan bayi ayam (starter).
  8. Screening & QC: penyaringan dan pengujian mutu.
  9. Pengepakan: dikemas dalam karung/pack sesuai permintaan pasar.

Peran pabrik pakan dalam industri unggas

  • Konsistensi nutrisi sesuai fase produksi.
  • Menurunkan biaya FCR (Feed Conversion Ratio).
  • Memenuhi kebutuhan peternak skala kecil hingga besar.
  • Menjaga keamanan pangan melalui QC, HACCP, dan standar mutu.

Tantangan yang dihadapi

  • Fluktuasi harga bahan baku (jagung, SBM).
  • Risiko aflatoksin pada jagung.
  • Biaya investasi & operasional tinggi.
  • Kebutuhan tenaga ahli (nutritionist, QC, teknisi).

Kesimpulan

Pabrik pakan ayam merupakan pilar penting dalam industri unggas. Dengan kontrol mutu yang baik, formulasi yang tepat, dan proses modern, feed mill dapat membantu peternak meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara signifikan.

Daftar Sumber

  1. Richi Machinery — Dokumentasi proses pabrik pakan.
  2. Pellet-Richi — Referensi lini produksi pakan.
  3. PELS UMSIDA — Materi alur produksi pakan.
  4. UNMER — Pembelajaran pengantar feedmill.
  5. Ringkasan berbagai artikel industri pakan ternak.

_dibuat dengan AI_

Rabu, 08 Oktober 2025

Panduan Pembuatan Pakan Ikan Nila dari Bahan Alami

berikut ini adalah panduan membuat pakan Ikan Nila skala rumahan dari bahan alami (tanpa tepung ikan atau premiks buatan), cocok untuk budidaya skala kecil:





🐟 Panduan Pembuatan Pakan Ikan Nila dari Bahan Alami

Bahan-bahan Alami:

  • Tumbuhan air / sayuran hijau: kangkung, daun pepaya muda, bayam, eceng gondok (dicincang halus)

  • Biji-bijian / karbohidrat: jagung manis, beras merah / putih, ubi jalar (direbus dan dihaluskan)

  • Sumber protein alami: cacing sutra, keong, jangkrik, bekicot, larva nyamuk

  • Tambahan opsional: kulit kacang tanah atau kedelai (direbus dan dihaluskan), dedak padi secukupnya

Alat:

  • Pisau / penggiling manual

  • Baskom / wadah untuk mencampur

  • Saringan kasar

  • Loyang / nampan untuk pengeringan


Langkah-langkah Pembuatan:

  1. Persiapan bahan hijau

    • Cuci bersih sayuran atau tanaman air.

    • Potong atau cincang halus agar mudah dicerna ikan nila.

  2. Persiapan sumber karbohidrat

    • Rebus jagung, ubi, atau beras hingga lunak.

    • Haluskan menjadi bubur atau adonan kental.

  3. Persiapan protein alami

    • Ambil cacing, keong, atau jangkrik segar.

    • Cuci bersih dan cincang halus.

  4. Campur semua bahan

    • Dalam baskom, campur bahan hijau, karbohidrat, dan protein.

    • Tambahkan sedikit air jika terlalu kering agar mudah dicetak.

  5. Cetak / bentuk pakan

    • Bentuk adonan menjadi pelet kecil atau bulatan ±5 mm diameter.

    • Bisa dicetak manual atau menggunakan cetakan sederhana.

  6. Pengeringan

    • Jemur pelet di bawah sinar matahari hingga kering, sekitar 1–2 hari tergantung cuaca.

    • Pastikan pakan kering merata agar tidak cepat berjamur.

  7. Penyimpanan

    • Simpan dalam wadah kedap udara di tempat sejuk dan kering.

    • Jika ingin disimpan lebih lama, bisa disimpan di kulkas / freezer.


Tips Tambahan:

  • Variasikan jenis sayuran dan protein alami agar nutrisi pakan lebih lengkap.

  • Untuk ikan nila yang masih kecil (<5 cm), hancurkan pakan menjadi butiran lebih halus.

  • Perhatikan pakan di kolam: jangan beri terlalu banyak sekaligus agar air tidak cepat kotor.


Sumber & Referensi:

  1. Dinas Perikanan Jawa Tengah – Panduan Pembuatan Pakan Alami Ikan Nila

  2. Budidaya Ikan Nila dengan Pakan Alami

  3. Suryanto, D. (2018). Teknik Budidaya Ikan Nila Skala Rumahan. Yogyakarta: Penebar Swadaya.


_dibuat dengan AI_

Selasa, 12 Agustus 2025

Panduan Membuat Pakan Ayam Broiler Sederhana (Skala Hobi)

 

Panduan ringkas: kebutuhan nutrisi, resep pakan starter & finisher, cara pencampuran, dan tips praktis.

Skala: Hobi RumahanPraktis & Lokal

Disusun berdasarkan pedoman nutrisi unggas (Kementan & FAO) dan praktik pakan skala kecil.

Terakhir diperbarui: 12 Agustus 2025

1. Kebutuhan Nutrisi Ayam Broiler

Panduan ini memakai dua fase: Starter (0–3 minggu) dan Finisher (4–6 minggu).

FaseProtein (%)Energi Metabolik (kkal/kg)Lemak (%)Serat Kasar (%)Ca (%)P tersedia (%)
Starter (0–3 minggu)22–233.000–3.1004–5≤50,90,45
Finisher (4–6 minggu)19–203.150–3.2005–6≤50,80,40

2. Resep Pakan Sederhana (Per 10 kg)

Starter (0–3 minggu)

BahanJumlah (kg)Peran
Jagung giling halus5,0Energi utama
Dedak padi halus2,0Serat & energi tambahan
Bungkil kedelai (SBM)2,0Protein (~44%)
Tepung ikan0,5Protein hewani & asam amino
Konsentrat broiler0,5Vitamin & mineral

Perkiraan nutrisi: Protein ±22%, Energi ±3.050 kkal/kg

Finisher (4–6 minggu)

BahanJumlah (kg)Peran
Jagung giling kasar6,0Energi utama
Dedak padi kasar2,0Serat & energi
Bungkil kedelai1,0Protein nabati
Tepung ikan0,3Protein hewani
Konsentrat broiler0,7Vitamin & mineral

Perkiraan nutrisi: Protein ±19%, Energi ±3.180 kkal/kg

3. Cara Pencampuran

  1. Giling jagung & bahan keras — halus untuk starter, agak kasar untuk finisher.
  2. Campur bahan mulai dari yang kuantitas besar → kecil (jagung → dedak → bungkil → tepung ikan → konsentrat).
  3. Aduk sampai homogen; cek ada tidaknya gumpalan atau kepulan.
  4. Simpan di wadah kedap udara, tempat kering & terlindung dari sinar matahari langsung.

4. Ilustrasi Sederhana

[🐓] Ayam Broiler
  ├─ Starter (0–3 minggu): Jagung 50% | Dedak 20% | Bungkil 20% | Tepung ikan 5% | Konsentrat 5%
  └─ Finisher (4–6 minggu): Jagung 60% | Dedak 20% | Bungkil 10% | Tepung ikan 3% | Konsentrat 7%
Ayam
Fokus pada nutrisi fase 0–6 minggu
Bahan Pakan
Jagung, dedak, bungkil, tepung ikan, konsentrat
Pencampuran
Aduk rata & simpan kering

5. Tips Praktis (Skala Hobi)

  • Gunakan bahan bebas jamur—jangan pakai bahan berbau tengik.
  • Jika kesulitan mendapat bungkil kedelai, pertimbangkan ampas tahu kering atau kacang tanah giling dengan penyesuaian protein.
  • Sertakan konsentrat komersial sedikit (5–7%) agar vitamin & mineral terpenuhi tanpa rumit.
  • Berikan air bersih & suplementasi vitamin 1–2 kali seminggu.
Catatan: Formulasi di atas adalah contoh sederhana untuk skala rumahan. Untuk skala komersial atau penyesuaian bahan lokal tertentu, sebaiknya konsultasi ke ahli nutrisi unggas atau gunakan perangkat lunak formulasi pakan.

Sumber & Rujukan

  • Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI — Pedoman Teknis Budidaya Ayam Broiler (Dokumen & panduan nutrisi).
  • FAO — Small-scale poultry feeding and nutrition (panduan pakan skala kecil).
  • Leeson, S. & Summers, J.D. — Commercial Poultry Nutrition (referensi nutrisi unggas).

_dibuat dengan AI_

Kamis, 31 Juli 2025

PAKAN IKAN

Panduan Lengkap tentang Pakan Ikan

Pakan ikan adalah segala jenis bahan makanan yang diberikan kepada ikan untuk menunjang pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatannya, baik yang berasal dari bahan alami, buatan, maupun alternatif. Pakan merupakan komponen vital dalam budidaya ikan karena menyumbang hingga 60–80% dari total biaya produksi.


1. Pentingnya Pakan dalam Budidaya 🐟

Pakan yang tepat dan berkualitas menentukan keberhasilan budidaya. Manajemen pakan yang baik dapat meningkatkan efisiensi pertumbuhan, menjaga kesehatan ikan, serta meminimalkan pencemaran air akibat sisa pakan.


2. Jenis-Jenis Pakan Ikan

A. Pakan Alami

Cocok untuk benih dan larva ikan.

  • Fitoplankton: seperti Chlorella sp., Spirulina sp., dan Nannochloropsis sp.

  • Zooplankton: Daphnia magna, Moina sp., dan cacing sutra (Tubifex sp.)
    Kaya protein dan mudah dicerna oleh ikan kecil.

B. Pakan Buatan (Komersial)

Tersedia dalam bentuk pelet terapung, tenggelam, crumble, dan mash.
Mengandung protein hewani (tepung ikan, tepung daging), lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

C. Pakan Tambahan/Alternatif

Digunakan sebagai suplemen pakan atau bahan lokal:

  • Cacing tanah, keong sawah, ikan kecil (rucah, guppy), kecebong

  • Fermentasi ampas tahu, dedak, maggot, tepung singkong


3. Formulasi Pakan Probiotik

Studi dari Jombang menyusun pakan dengan kombinasi bahan seperti:

  • Tepung ikan, tepung kedelai, gandum, vitamin, dan probiotik

  • Kandungan protein bervariasi tergantung jenis ikan: herbivora, omnivora, atau karnivora


4. Bahan Baku Lokal: Murah & Berkelanjutan

Upaya substitusi tepung impor dengan bahan lokal:

  • Maggot (protein ~36%) sebagai pengganti tepung ikan

  • Didukung oleh program Gerpari untuk kemandirian pakan nasional


5. Cara Memberi Pakan dengan Efektif

  • Beri pakan sesuai umur dan jenis ikan

  • Jangan berlebihan agar tidak mencemari air

  • Kombinasikan pakan alami dan buatan untuk hasil optimal


6. Ringkasan Tabel

Jenis PakanContohKelebihan
Alami        Fitoplankton, cacing, Daphnia        Mudah dicerna, cocok untuk benih
Buatan        Pelet, crumble        Praktis, nutrisi seimbang
Alternatif        Maggot, dedak, keong            Ekonomis, mendukung lokalitas

📚 Daftar Sumber Referensi:

  1. De Heus Indonesia - Pakan Ikan Alami

  2. De Heus Indonesia - Pakan Buatan

  3. DKP Jawa Tengah

  4. Dinas Perikanan Buleleng

  5. Scribd - Jenis Pakan Tambahan

  6. JFMR Universitas Brawijaya

  7. Jurnal UGM - Maggot

  8. Jurnal Unair

  9. Jurnal Polban

  10. Minapoli - Manajemen Pakan

  11. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia - Gerpari


_dibuat dengan AI_

Jumat, 18 Juli 2025

PAKAN UDANG

Pakan Udang: 

Kunci Produktivitas Budidaya yang Efisien dan Berkelanjutan

Pakan memegang peranan vital dalam budidaya udang. Dalam sistem intensif, biaya pakan bisa mencapai 50–70% dari total biaya operasional, menjadikannya komponen utama yang menentukan efisiensi dan hasil panen. Oleh karena itu, pemilihan pakan yang tepat, baik dari sisi nutrisi maupun strategi pemberian, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan udang.

Secara umum, pakan udang terbagi menjadi dua jenis: pakan alami dan pakan buatan (komersial). Pakan alami seperti plankton, lumut, dan cacing biasa diberikan pada tahap larva. Sementara pakan buatan berupa pelet digunakan pada fase pembesaran. Pelet ini mengandung protein 35–45%, lemak 5–8%, serta nutrisi tambahan seperti asam lemak esensial (EPA & DHA) dan kolesterol.

Kualitas pakan sangat memengaruhi nilai konversi pakan (FCR), yaitu rasio antara jumlah pakan yang diberikan dengan pertambahan berat udang. Nilai FCR ideal berkisar antara 1,4–1,7. Pemberian pakan dilakukan secara bertahap 4–5 kali sehari, dan harus diawasi dengan menggunakan feeding tray untuk mencegah kelebihan pakan yang dapat mencemari air dan memicu penyakit.

Data dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menunjukkan bahwa pada tahun 2021, kapasitas produksi pakan udang Indonesia mencapai 870.000 ton, namun utilisasinya baru sekitar 400.000 ton. Hal ini menandakan masih besarnya potensi pengembangan industri budidaya udang nasional.

Seiring meningkatnya kebutuhan global, berbagai produsen mulai mengembangkan pakan alternatif berbasis serangga, kedelai fermentasi, dan limbah agroindustri. Pendekatan ini mendukung keberlanjutan sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan impor seperti tepung ikan.

Peningkatan efisiensi pakan udang bukan hanya berdampak pada hasil panen, tetapi juga pada daya saing industri udang nasional di pasar ekspor. Maka dari itu, integrasi antara teknologi, manajemen pakan, dan inovasi bahan baku menjadi prioritas dalam strategi budidaya masa depan.


Sumber Referensi


  • FAO. Feeding and Feed Management in Shrimp Aquaculture. https://www.fao.org

  • GPMT. GPMT Ready to Support Shrimp Cultivation Improvement. https://gpmt.id

  • Zidan et al. (2024). Effect of Lipid and Protein on Feed Conversion Ratio in Vannamei. EJABF

  • Jala.tech. Nutrisi Penting dalam Pakan Udang. https://jala.tech



 _dibuat dengan AI_


Kamis, 17 Juli 2025

PAKAN AYAM LAYER

 


🐔 Pakan Ayam Layer: 

Panduan Nutrisi, Komposisi, dan Bahan Baku

Ayam layer (ayam petelur) membutuhkan pakan dengan formulasi khusus untuk menjaga produktivitas telur, kualitas cangkang, dan kesehatan tubuh ayam. Pakan yang tidak sesuai akan berdampak langsung pada penurunan produksi, kualitas telur yang buruk, hingga masalah kesehatan.

Artikel ini membahas secara lengkap mengenai komposisi nutrisi ideal, bahan baku umum, fase pemberian pakan, serta tips penting dalam manajemen pakan ayam layer berdasarkan sumber ilmiah dan standar industri ternak.


✅ Komposisi Nutrisi Ideal Pakan Ayam Layer

Komposisi nutrisi ayam layer disesuaikan dengan kebutuhan biologis ayam selama masa produksi telur. Menurut National Research Council (NRC, 1994) dan panduan manajemen dari Hy-Line serta Lohmann, berikut adalah kadar nutrisi yang disarankan:

NutrisiKadar Ideal
Energi Metabolis2700–2900 kkal/kg
Protein Kasar16–18%
Kalsium (Ca)3.5–4.5%
Fosfor (P)0.35–0.45%
Metionin + Sistein0.6–0.7%
Serat Kasar<5%

Formulasi pakan yang tepat akan menjaga produksi telur stabil di atas 90% dan memperpanjang masa produksi optimal ayam layer.


🥣 Bahan Baku Umum Pakan Ayam Layer

Bahan baku pakan bisa berasal dari sumber lokal maupun pabrik. Berikut adalah kelompok bahan baku berdasarkan fungsinya:

1. Sumber Energi

  • Jagung giling

  • Dedak padi

  • Tepung roti

2. Sumber Protein

  • Bungkil kedelai (SBM)

  • Tepung ikan

  • Bungkil kelapa

3. Sumber Mineral & Vitamin

  • Kapur (CaCO₃)

  • Tepung tulang

  • Premix vitamin dan mineral

4. Additif Tambahan

  • Enzim (meningkatkan pencernaan)

  • Anti mikotoksin (mencegah racun jamur)

  • Probiotik

Bahan-bahan tersebut dapat diformulasikan sesuai dengan ketersediaan lokal, dengan tetap memperhatikan nilai nutrisinya agar mencapai standar kebutuhan ayam.


📆 Fase Pemberian Pakan Ayam Layer

Ayam layer membutuhkan jenis pakan yang berbeda sesuai dengan fase pertumbuhannya. Fase ini memengaruhi kebutuhan protein dan kalsium.

FaseUsiaFokus Nutrisi
Starter0–6 mingguProtein tinggi (18–20%), vitamin lengkap
Grower7–15 mingguPertumbuhan tulang dan berat badan
Pre-layer16–18 mingguPersiapan bertelur, naikkan kalsium
Layer (produksi)18 minggu ke atasKalsium tinggi, protein sedang (16–18%)

Mengatur pakan berdasarkan fase ini penting agar ayam berkembang optimal dan tidak terlambat bertelur.


🥚 Tips Pemberian Pakan Ayam Layer

Berikut beberapa praktik terbaik dalam pemberian pakan ayam layer:

  • Beri pakan 2–3 kali sehari secara rutin

  • Sediakan air bersih tanpa henti

  • Jangan ubah komposisi pakan secara mendadak

  • Simpan pakan di tempat kering dan tidak lembap

  • Perhatikan perilaku makan ayam: ayam sehat akan makan aktif dan teratur


📚 Daftar Sumber Referensi

  1. NRC (National Research Council). (1994). Nutrient Requirements of Poultry: Ninth Revised Edition. National Academy Press.

  2. Hy-Line International. (2020). Hy-Line Brown Management Guide.
    ➜ https://www.hyline.com

  3. Lohmann Tierzucht GmbH. Lohmann Brown Management Guide.
    ➜ https://www.ltz.de

  4. FAO. Manual of Feed Ingredients for Livestock and Poultry.
    ➜ https://www.fao.org

  5. SNI 8173.1:2015. Pakan Ayam Ras Petelur. Badan Standardisasi Nasional, Indonesia.


🎯 Kesimpulan

Pakan ayam layer adalah faktor utama dalam menentukan keberhasilan usaha peternakan ayam petelur. Komposisi pakan harus memperhatikan keseimbangan energi, protein, kalsium, dan vitamin, serta disesuaikan dengan fase usia ayam. Dengan manajemen pakan yang tepat dan penggunaan bahan baku yang sesuai, peternak dapat menjaga produktivitas telur tetap tinggi dan berkelanjutan.

GPMT: Ketersediaan Bahan Baku, Kunci Keberlanjutan Industri Pakan Nasional

Tangerang, 14 Oktober 2026 – Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan industri pakan ternak na...