Senin, 23 Juli 2012

Kongres GPMT Ke- XII : Optimalkan Serapan Jagung Nasional untuk Pakan


Kongres GPMT Ke- XII : Optimalkan Serapan Jagung Nasional untuk Pakan
Industri pakan anggota GMPT siap serap produksi jagung nasional dan mendukung program swasembada jagung
Sebagai bahan baku utama produksi pakan nasional, jagung mendapat perhatian khusus dalam pembahasan Kongres GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia) ke- XII  yang berlangsung 10-12 Mei 2012 di Padma Resort Bali. Kongres yang dihadiri 56 pabrikan yang diwakili 97 orang delegasi dari seluruh Indonesia itumengambil  tema “Efisiensi Produksi Pakan dalam rangka Meningkatkan Daya Saing dan Menunjang Ketahanan Pangan”.
Sudirman, yang kembali dipercaya sebagai Ketua GPMT dalam sambutannya menyatakan bahwa tantangan yang sedang dihadapi oleh pabrik pakan saat ini adalah kurangnya bahan baku lokal. Padahalpada 2011 produksi jagung nasional mencapai 17,8 juta ton, semantara kebutuhan untuk produksi pakan hanya5,6 juta ton.
Sudirman lanjut menjelaskan, kebutuhan jagung pakan tersebut hanya mampu dipenuhi sekitar 2,5 juta ton jagung lokal, sisanya harus mengimpor. Saat ini untuk kebutuhan produksi pakan perbulan mencapai 56.000 ton, masihbelum bisa dipenuhi oleh produksi jagung nasional. “Ini yang kami tidak tahu realitas produk dengan data. Kenyataannya, jagung memang tidak ada,” tanyannya.
Sudirman menampik jika upaya impor sebagai jalan pintas memenuhi kebutuhan bahan baku produksi pakan. Kenyataannya, pabrik pakan lebih menyukai jagung lokal ketimbang jagung impor. Menurutnya, Jagung lokal lebih fresh(segar), harga lebih murah, dan perputaran uang akan kembali ke petani. “Tidak perlu mengeluarkan dari devisanegarakan?” tanya Sudirman.
Ia menambahkan, pembatasan impor dan pemberlakuan tarif 5%, sesungguhnya berfungsi sebagai barrier terhadap serbuan produk impor. Supaya pertanian jagung dalam negeri juga bergairah. “Namun faktanya jagung yang kita butuhkan tidak kunjung tersedia, sungguh dilema,”ungkap Sudirman.
Meski demikian, untuk tahun ini ia mempredisksi ada peningkatan produksi jagung nasional. Dari hitungannya, tri wulan pertama 2012, impor jagung mencapai 260.000 ton dengan proyeksi impor sampai akhir 2012 sebesar 1,5 juta ton. “Angka ini menurun jika dibandingkan dengan jumlah impor pada triwulan yang sama tahun lalu. Artinya pada 2012, produksi jagung nasional mulai mengalami peningkatan,” kata Sudirman .
Menyoroti pula soal jagung, dalam kongres tersebut, hadir Prof Budi Tangendjaya sebagai pembicara pembukaan kongres. Pakar pakan ternak ini mengemukakan bahwa dunia saat ini sedang ketergantungan terhadap jagung. “Barang siapa yang mendahului, dia yang akan menang,” katanya ketika mengulas soal product leadership.
Ia menjelaskan, jagung yang dalam komposisi penyusun pakan mampu menghasilkan protein lebih ini, mau tak mau harus dikembangakan dengan serius. Pengembangan produksi jagung juga selaras dengan Undang-Undang nomor 7/1996 tentang ketahanan pangan yang salah satu poinnya adalah pembatasan impor maksimal 10%.
Namun, kata Budi kenyataannya, impor terus dilakukan. Jagung impor terus menggilas jagung lokal. Data produksi lokal yang pertahunnya diperkirakan mampu menyuplai kebutuhan jagung dalam negeri hanya diatas kertas. “Pilihannya ya memang harus land, land, land. Back to basicyaituPertanian,” tegas Budi semangat. Land reform dipercayainya akan mampu meningkatkan produksi jagung dalam negeri dan mewujudkan swasembada jagung.
Jalin Kerjasama
Sebagai asosiasi yang menghimpun berbagai organisasi pabrik produsen pakan, dalam perkembangannya, GPMT terus melakukan pembenahan. Salah satu upaya yang sudah dilakukan adalah dengan menjalin kerjasama dengan Dewan Jagung Nasional dan asosiasi bibit. Selain itu,GMPT jugaikut andil dalammembentuk tim gabungan untuk mengidentifikasi produksi jagung nasional yang terdiri atas unsur Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, serta pelaku industri.
Menurut Sudirman, tim akan terus berjalan walau ada perbedaan angkaproduksi dan kebutuhan. Identifikasi produksi jagung terus dilakukan, seperti data terakhir hasil survei yaitu produksi jagung di Lampung mencapai 2,5 juta ton.“Dalam upaya swasembada jagung, pemerintah boleh hanya mempertimbangkan nasib petani tapi juga harus peternakyang jumlahnya sekitar 12,5 juta jiwa,” ungkap Sudirman.
Selain itu, tambahnya, melalui kongres kali ini akan dibentuk bidang khusus yang menangani tentang  pemberdayaan bahan baku lokal yang bisa mendukung industri hulu. Selain jagung, bahan baku pakan yang luput dari perhatian adalah katul. Bahn baku katul yang menyumbang 10% untuk total produksi pakan, ternyata juga mengalami penurunan produksi. “Hal ini karena produksi padi juga menurun,” terang Sudirman.


Hasil Kongres XII GPMT

Pernyataan Sikap Kongres GPMT Ke-XII
  1. GPMT mendukung program swasembada jagung. Mengingat kebutuhan jagung untuk pakan ternak meningkat dari tahun ke tahun, dan masih terdapat kesenjangan data  produksi jagung nasional  yang dirilis dengan kenyataan di lapang, maka data tersebut perlu diperbaiki. 
  2. GPMT menolak impor produk produk perunggasan dan perikanan selama produk produk tersebut  dapat dipenuhi  oleh produksi dalam  negeri.
  3. GPMT perlu berkolaborasi dengan asosiasi dan institusi  lain untuk pemenuhan  kebutuhan jagung dan  bahan baku pakan lokal lainnya,  serta perlu melakukan advokasi untuk  mengantisipasi adanya ancaman produk  perunggasan impor.