Kamis, 03 Juli 2014

PAKAN AYAM PEDAGING (BROILER) TIDAK MEMAKAI HORMON



http://www.pojok-vet.com/wp-content/uploads/2013/01/daging-ayam-segar.jpg 

Betulkah mengonsumsi daging ayam broiler dapat mengganggu pusat seks bayi yang dilahirkan terutama bagi anak laki-laki yang dilahirkan karena akan menjadi kelebihan hormon esterogen yang merupakan hormon perempuan?

Jawabannya adalah : SALAH

Karena pakan ayam tidak memakai HORMON.


Hormon sebagai pemacu pertumbuhan atau penggemukan yang mengandung hormon Diethylstilbestreal/DES dan lain-lain hormon sejenis berdasarkan Surat Edaran Direktorat Kesehatan Hewan No. 329/XII-4/10/1983 dilarang diedarkan dan dipergunakan. Hormon, menurut SK Dirjen Peternakan No. 179/KPTS/DJP/Deptan/1980 termasuk dalam golongan obat keras. Adapun obat keras untuk hewan adalah obat hewan yang apabila pemakaiannya tidak sesuai dengan ketentuan akan berbahaya bagi hewan dan atau manusia yang mengonsumsi hasil hewan tersebut.
"Hormon" phobia dikalangan masyarakat kita tidak lain bermula dari keheranan masyarakat awam tentang pertumbuhan ayam ras yang luar biasa itu.
Coba bayangkan, DOC beratnya 40 gr, dalam waktu 1 minggu beratnya lebih dari 4 kali semula (175 gr) dan siap dipotong pada umur 30 hari karena beratnya sudah mencapai 1,5 kg.
Wajar jika muncul pertanyaan rekayasa macam mana yang telah diberikan dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dibenak masyarakat awam.

Tabel I
PERKEMBANGAN PERFORMANS 2005 – 2010
Age
BW (g/b)
ADG (g/b/d)
Cum FI (g/b)
FCR
(Wk)
2005
2010
2005
2010
2005
2010
2005
2010
1
160
175
16.7
19.1
146
150
0.92
0.86
2
418
486
37
44.4
514
512
1.23
1.05
3
803
932
55
63.7
1124
1167
1.4
1.25
4
1265
1467
66
76.4
1923
2105
1.52
1.46
5
1765
2049
71.4
83.1
2912
3283
1.65
1.60
ADG        -   Average Daily Gain
Cum FI   -   Cumulative Feed Intake
FCR        -   Feed Convertion Rate

Ilmu peternakan yang paling sederhana telah menggaris bawahi bahwa usaha beternak apa saja ada 3 faktor yang harus diperhatikan yaitu faktor genetik, lingkungan (pakan, kesehatan, manajemen) serta permintaan pasar. Rupanya faktor genetiklah yang menyebabkan pertumbuhan broiler tersebut begitu cepat. Lalu pertanyaan muncul, mengapa genetis ayam ras lebih “super” dibanding ayam buras? Itulah hasil kemajuan ilmu genetika dan seleksi rumit yang dilakukan oleh genetisis.
Sudah lebih dari 50 tahun penelitian tentang ayam yang meliputi seleksi genetis serta pencatat asal usulnya telah dilakukan oleh para genetisis mulai dari galur murni (pure line), garis kakek nenek (grand parent stock), garis orang tua (parent stock) sampai garis akhir (final stock). Dikatakan final stock karena bila ayam-ayam tersebut dikawin silangkan lagi maka keturunan berikutnya akan lebih jelek daripada performa orang tuanya. Jadi ayam final stock adalah ayam terbaik yang dihasilkan dari proses kawin silang dan seleksi genetis generasi sebelumnya.

Tabel II
PERUBAHAN PERFORMANS
Period
Days to 1.800 gr
FCR
1950
84
3.25
1960
70
2.50
1970
59
2.20
1980
51
2.10
1990
42
1.93
2000
36
1.65
2010
34
1.58

Dari data tersebut diatas terlihat perkembangan genetik dari ayam pedaging (broiler). Kalau pada tahun 1950 untuk mencapai berat badan 1800 gr dibutuhkan waktu 84 hari dengan fcr 3.25, maka tahun 2000 waktu yang dibutuhkan 36 hari dengan fcr 1.65 dan tahun 2010 hanya dalam waktu 34 hari telah mencapai 1.800 gr dengan fcr 1.58, dan tahun 2020 berat badan 2.580 dalam waktu 35 hari dengan fcr 1.33.
Untuk mendukung keunggulan genetis suatu ternak dan menjadikan penampilan ternak sesuai yang diharapkan, perlu kondisi lingkungan yang memadai. Lingkungan yang dimaksud adalah pakan yang bernilai nutrisi tinggi, kesehatan yang prima, kandang yang nyaman serta disiplin pemeliharaan. Diharuskan memberikan pakan yang cukup sesuai dengan kebutuhan, dilakukan pencegahan penyakit (vaksinasi) dsb. Bila persyaratan itu dipenuhi, maka tak setetespun hormon pertumbuhan yang diperlukan untuk menghasilkan ayam pedaging (broiler) berbobot lebih dari 2 kg dalam waktu 35 hari. Selain hormon dilarang dipergunakan juga menambah ongkos produksi (tidak ekonomis) dan menghabiskan waktu untuk menyuntik satu persatu.
Kita semua tahu bahwa protein adalah salah satu unsur yang penting untuk membentuk kualitas berfikir maupun kesehatan manusia. Dibandingkan negara lain, Indonesia sangat ketinggalan dalam konsumsi protein hewani pertahun/kapita yang dapat dilihat pada tabel III.

Tabel III
KOMPARASI KONSUMSI (KAP/TH)

Indonesia
Malaysia
Thailand
Philipina
Singapura
Broiler (kg)
7
38,5
14
8,5
28
Telur (butir)
86
311
216
120
500
Susu (liter)
9
27
22,1
11
56
Daging sapi (kg)
2,1
43
23,3
19
80,3
Ikan (kg)
30
45
31,1
31,7
22,8
Diolah dari berbagai sumber (2011)

Kita harus tingkatkan konsumsi protein hewani agar generasi mendatang tumbuh dengan baik, tidak “stunted” (pendek). Perlu adanya kampanye gizi yang terus menerus secara nasional dalam rangka menyadarkan masyarakat tentang pentingnya protein hewani antara lain, daging, susu dan telur mulai dari pemimpin yang paling tinggi sampai ke desa-desa agar timbul kesadaran secara nasional sehingga masyarakat dapat mengalokasikan belanja rumah tangga dengan cara yang benar.
Perkembangan teknologi sudah sedemikian maju, komunikasi begitu canggih, manusia tidak dapat menguasai semua ilmu, masing-masing ada spesialisasinya. Semoga tulisan ini menghapus keraguan dan kekuatiran kita untuk menyantap ayam yang proteinnya tinggi dan semoga issue yang menyesatkan ini tidak terulang lagi.

GPMT