Rabu, 19 Juni 2013

Pebisnis Terigu Sasar Industri Pakan Ternak


Pebisnis Terigu Sasar Industri Pakan Ternak
JAKARTA. Pengenaan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) bagi terigu impor, khususnya dari Turki membawa berkah bagi pebisnis terigu domestik. Pebisnis pakan ternak, khususnya untuk produk pakan ikan (aqua feed) diprediksi bisa  mengalihkan pasokan terigu impor ke produsen lokal.
Asal tahu saja, pemerintah sudah menerapkan BMTPS bagi terigu impor, terutama dari Turki lantaran terindikasi dumping sebesar 20% dari nilai impor. Alhasil, produsen tepung terigu mulai menyasar ke pemain pakan ternak yang memakai terigu sebagai salah satu bahan baku pakan ternak, terutama pakan ikan.
Franciscus Welirang, Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) bilang, pengenaan BMTPS tersebut membuka peluang bagi produsen terigu domestik untuk memperluas pasar terigu ke sektor industri perikanan. "Memang ada spesifikasi tertentu bagi terigu bisa menjadi salah satu bahan baku pakan ternak terutama aqua feed," kata Franky, sapaan akrabnya pekan lalu.
Namun ia yakin, pebisnis terigu domestik siap memenuhi kebutuan industri pakan  ternak domestik. Selama ini, industri besar penyerap terigu buatan dalam negeri baru dari sektor industri makanan dengan kontribusi sekitar 30% dari total konsumsi terigu domestik. Adapun konsumsi terigu di pasar dalam negeri selama 2012 diprediksi bisa naik 7% dari konsumsi terigu tahun lalu  yang sebesar 5,06 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan terigu untuk indutri pakan ternak perikanan sendiri rata-rata mencapai 100.000 ton per tahun. Berarti, untuk tahun ini bakal ada tambahan permintaan terigu dari industri ini. "Berarti, pangsa pasar industri pakan bisa sekitar 2% dari kebutuhan terigu nasional," katanya.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman siap menyerap terigu lokal bila kalangan industri terigu domestik siap memenuhi kebutuhan industri pakan nasional. Apalagi mengalihkan pasokan ke terigu lokal lebih menguntungkan dari sisi biaya transportasi. "Sebelumnya kami impor dari Turki dan Srilangka. Dengan ada pasokan lokal tentu kami siap menyerap," ujarnya.
Tak hanya industri pakan ternak, permintaan terigu dari industri makanan untuk tahun ini bisa membumbung. Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) bilang permintaan makanan dari produk turunan terigu semacam mie instan dan biskuit tidak hanya tumbuh di pasar domestik tapi juga di pasar ekspor.
Menurutnya, ekspor produk turunan terigu dari Januari - Oktober  2012 tumbuh 3,9% menjadi US$ 335,4 juta dari ekspor di periode yang sama 2011.
Dari data Aptindo, total kapasitas giling terigu domestik  saat ini mencapai 8,06 juta ton per tahun dari 21 pabrik terigu yang ada. Kapasitas giling ini akan bertambah 2,27 juta ton per tahun dalam tiga tahun ke depan lantaran ada rencana pendirian delapan pabrik penggilingan terigu baru.

Sumber : Ditjen Agro

Jumat, 14 Juni 2013

Bea Masuk Terigu Akan Dilanjutkan

Aptindo usul perpanjangan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) 20% impor terigu yang berakhir bulan depan

JAKARTA. Produsen tepung terigu dalam negeri mendesak pemerintah memperpanjang penerapan bea masuk impor tepung terigu sebesar 20%. Desakan itu seiring dengan akan berakhirnya penerapan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) pada bulan depan.
Bea masuk berlaku selama 200 hari dihitung sejak 5 Desember 2012. Dengan berakhirnya aturan itu, produsen tepung terigu lokal khawatir tepung terigu impor akan kembali membanjiri pasar dalam negeri.
Desakan itu diungkapkan oleh Ratna Sari Loppies, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO). Lantaran kekhawatiran tersebut, Aptindo meminta pemerintah tetap melanjutkan BMTPS menjadi Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP).
Ratna mengakui, pemberlakukan BMTPS telah berdampak positif bagi penjualan tepung terigu produksi dalam negeri pada kuartal I-2013. “Perkembangan industri terigu dalam negeri juga semakin positif,” ungkap dia, akhir pekan lalu.

Impor Menurun
Kenaikan penjualan terjadi seiring penurunan pangsa pasar tepung terigu impor sebesar 72% pada kuartal I-2013 di pasar domestik. Menurut Ratna, BMTP tidak hanya menurunkan market share terigu impor namun meniadakan diskriminasi Pajak Penambahan Nilai (PPN) terigu pakan ternak. Selama ini terigu pakan ternak lokal terbebani PPN 10%, sementara terigu impor bebas PPN.
Penurunan impor tepung terigu sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2010 ketika Aptindo melayangkan petisi anti dumping. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan tahun lalu impor terigu mencapai 479.682 ton, turun 29,4% dibandingkan dengan tahun 2011 yang mencapai 679.642 ton. Sementara impor tepung terigu pada tahun 2010 sebesar 775.534 ton.
Walau impor turun, harga tepung terigu lokal relatif stabil bahkan ketika harga gandum dunia menanjak. Mengutip data Aptindo, harga terigu lokal yang diwakili merek Segitiga Biru sebagai merek paling laris, rata-rata pada tahun lalu di kisaran Rp. 130.475 perkarung isi 25 kg. Harga itu turun 3% dibandingkan 2011 yang mencapai Rp. 134.633 per karung.
Hadian Iswara, Manajer Senior Pengembangan Bisnis PT. Sriboga Ratu Raya, memperkuat penjelasan Ratna Sari Loppies. Dia mengaku perusahaannya sangat tertolong adanya BMTPS. “BMTPS membuat produsen terigu lokal tertolong,” katanya.
BMTPS membuat produksi terigu Sriboga melejit. Bahkan sejak awal Februari 2013, perusahaan ini memerlukan gandum impor sebagai bahan baku terigu mencapai 1.900 ton, naik 15% dari sebelumnya. Kenaikan itu berasal dari penambahan satu line produksi Sriboga berkapasitas 250 ton per hari dengan investasi Rp. 50 milliar.
Dengan utilisasi pabrik yang mencapai 80%, menurut Hadian, kapasitas maksimal pabrik akan terpenuhi dalam dua tahun sehingga Sriboga harus melakukan ekspansi baru.
Atas desakan itu, Bachrul Chairi, Ketua Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) yang juga Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, menyatakan, akan melakukan notifikasi terlebih dahulu ke  Badan Perdagangan Dunia atau WTO sebelum mengambil keputusan. Pengiriman notifikasi ini merupakan ketentuan perdagangan dunia. “Senin atau Selasa saya akan kirim surat ke WTO,” katanya, Jumat (19/5).
Setelah notifikasi, dilanjutkan konsultasi dengan negara importir terigu yang akan terkena dampak penerapan bea masuk. Bachrul menargetkan keputusan bea masuk terigu akan dapat dilakukan pada akhir Juni 2013.
Sumber : Kontan Senin, 20 Mei 2013
sumber : APTINDO

Selasa, 28 Mei 2013

Pasokan Bahan Baku Berkurang, Harga Pakan Ternak Meningkat

Pasokan Bahan Baku  Berkurang, Harga Pakan Ternak MeningkatFinanceroll – Harga jual rata-rata pakan ternak nasional mengalami kenaikan sebesar Rp 300-Rp 400 per kilogram. Kenaikan itu didorong kelangkaan pasokan dan kenaikan harga bahan baku pakan, yakni jagung, bungkil kedelai, serta tepung daging dan tulang atau meat and bone meal (MBM).
Harga jual rata-rata pakan ternak saat ini sudah mencapai Rp 5.300-Rp 5.400 per kilogram, dari rata-rata sepanjang tahun ini sekitar Rp 5.000 per kilogram.  Namun, potensi kenaikan tetap ada karena kondisi pasokan bahan baku yang kritis dan harga bahan baku yang masih tinggi.
Sementara pasokan jagung lokal saat ini sudah mulai habis karena panen di beberapa daerah sudah selesai. Stok jagung di gudang seluruh pabrik pakan ternak saat ini hanya 490 ribu ton.  Padahal  kebutuhan jagung untuk pakan sekitar 600 ribu ton per bulan.
Di samping  pasokan yang kurang, harga jagung di pasar juga mencatat kenaikan. Harga jagung lokal saat ini sudah mencapai Rp 3.000 per kilogram, dari harga pada Februari yang sekitar Rp 2.100 per kilogram. Porsi jagung di pakan ternak mencapai 50%.
Selain jagung, harga bungkil kedelai saat ini juga mengalami kenaikan signifikan. Salah satu penyebabnya adalah terhambatnya pengapalan dari Argentina, negara eksportir utama bungkil kedelai ke Indonesia akibat aksi demo dan masalah transportasi.
Harga bungkil kedelai pada Februari-Maret berada di level US$ 420 per ton. Saat ini harganya sudah mencapai US$ 650 per ton atau naik hingga 50% atau sekitar US$ 230 per ton.  Porsi bungkil kedelai di pakan ternak mencapai 20%-25%. 
 
Sumber : Financeroll