Rabu, 08 Agustus 2012

PLT GUBSU meminta penghentian impor jagung ke Sumatera Utara


http://i34.tinypic.com/23hves7.jpgMEDAN - Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara (plt Gubsu) Gatot Pujo Nugroho meminta penghentian impor jagung ke Sumatera Utara.
Hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas harga jagung di tingkat petani Sumut yang merasa dirugikan pada saat panen raya berlangsung.
"Saya minta tidak ada lagi jagung dari luar masuk ke Sumatera Utara, terutama pada saat musim panen jagung, agar nilai jual panen jagung dapat lebih stabil," pinta Gatot.

Gatot menuturkan, kebijakan tersebut penting mengingat Sumut merupakan daerah surplus jagung nasional sehingga tidak membutuhkan impor jagung dari luar negeri  maupun luar daerah. Dengan jumlah produksi 1,3 juta ton per tahun dan termasuk lima besar produsen jagung nasional, Sumut sangat mampu memenuhi kebutuhan lokal.

Saat ini, terdapat sekitar delapan produsen pakan ternak unggas yang menggunakan jagung sebagai bahan pakan, dengan kebutuhan jagung sebesar 1 juta ton per tahun. Namun, sebagaimana keluhan para petani, sering kali hasil panen jagung tidak diterima para produsen pakan ternak dengan alasan stok jagung impor mereka masih mencukupi.

"Setiap panen, pabrikan menolak jagung petani dengan alasan stok jagung impor di gudang masih cukup. Ini sungguh mengherankan, karena harga jagung impor justeru lebih mahal di banding harga jagung di tingkat lokal," kata Ketua Komunitas Jagung Karo, Tekad Brahmana.

Dengan adanya penolakan tersebut, kata Tekad, menyebabkan produksi jagung petani tidak terserap sehingga harganya juga menjadi turun. Saat ini harga jagung menurut petani Karo tersebut berada di kisaran Rp 2.300-2.500 per kilogram. Menurut Tekad, harga tersebut masih kurang menguntungkan para petani, dan dia berharap harga jagung dapat bekisar di atas Rp 3.000 per kilogram.

Menanggapi hal tersebut, Gatot juga meminta agar dapat dijajaki kerjasama antara para petani dan produsen pakan ternak sehingga memutus rantai pemasaran dan dapat menguntungkan kedua belah pihak.

"Bila perlu dilakukan MoU antara petani di sentra produksi jagung dengan produsen pabrik, sehingga ada kejelasan pasokan ke pabrik dan petani memiliki kepastian harga dan pasar," imbuh Gatot.

Sementara itu, Kadis Pertanian Provsu, M Roem mengatakan, kapasitas produksi pakan ternak unggas di Sumut terbesar di luar Jawa dengan wilayah pelayanan juga meliputi Aceh, Riau, Pekan Baru dan provinsi lainnya. Kendati demikian, Sumut masih mampu memenuhi kebutuhan pabrik pakan dengan target produksi tahun 2012 sebesar 1,5 juta ton dengan luas lahan 12.655 ha. Namun, kata Roem, memang secara nasional, kebutuhan jagung masih mengalami kekurangan sehingga pemerintah masih membuka keran impor. Untuk perbaikan harga, menurut Roem pihaknya sudah menaikkan harga referensi dasar provinsi untuk jagung dari Rp 1.600 menjadi Rp 2.133 belum lama ini.

Apabila harga jual jagung dibawah harga referensi dasar, maka Bulog yang akan membeli hasil panen petani.

Sumber : waspada.co.id