Senin, 10 September 2012

CERITA PILU TRAGEDI GEMPA BUMI CHINA-Pasrah Hadapi Masa Depan Suram

Semua jagung yang baru dipanen hancur begitu saja. ... Menurut kantor berita Xinhua,gempa ini menewaskan sedikitnya 80 orang dan melukai 731 orang.


http://global.fncstatic.com/static/China%20Earthquake_Forg.jpgSetiap bencana memang kerap menyisakan cerita pilu tersendiri. Begitu pula bencana gempa kembar berkekuatan 5,6 skala Richter (SR) yang menghantam China, Jumat (7/9) lalu.

Di sana,petani miskin Mu Xianchun,46,menceritakan dirinya berhasil lolos tanpa cedera ketika gempa bumi kembar melanda desanya di daerah terpencil China barat daya. Meski bersyukur karena dirinya telah selamat,saat ini dia menghadapi masalah lain. Dia harus pasrah menghadapi masa depan yang suram setelah semua yang dimilikinya hancur berkeping-keping. Seperti banyak pekerja miskin perdesaan di China,Mu memang hanya memiliki sedikit harta.Dan semua itu harus direlakan hilang begitu saja akibat gempa.“Semua jagung yang baru dipanen hancur begitu saja.

Dan semua alat-alat pertanian saya ini. Seluruh hidup saya dan saya tidak punya masa depan sekarang,”ungkapnya kepada AFP,ketika berdiri di luar tenda di lapangan sekolah dasar lokal di Yiliang,yang saat ini menjadi rumahnya.Setelah gempa terjadi,banyak bangunan sekolah yang disulap menjadi tempat relokasi. Menurut kantor berita Xinhua,gempa ini menewaskan sedikitnya 80 orang dan melukai 731 orang. Lebih dari 6.600 rumah hancur dan sekitar 430.000 rumah rusak akibat gempa.“Saya takut berada di dalam bangunan sekarang,kita semua merasa takut,”terang Mu,yang kembali setelah menghabiskan pagi di bekas rumahnya yang dihantam gempa untuk mengumpulkan puing-puing beton.

Mu tinggal di desa Maoping,Yiliang,salah satu dari jajaran rumah miskin yang tersebar di tepi Sungai Nanpan di Provinsi Yunnan. Desa ini tepat terletak di lembah yang tipis antara tebing yang menjulang, sehingga sulit menyelamatkan diri saat longsor terjadi. Sedangkan jalan sempit berada di antara tebing dan sungai,setelah arteri utama Maoping.Longsor batu masih terjadi di bawah tebing,dan menjadi peringatan di kalangan pekerja bantuan serta tentara untuk menyusun upaya penyelamatan,dengan terus mengawasi tanda-tanda longsor lebih lanjut.

Saat ini hanya tersisa beberapa warga di Maoping, puing-puing reruntuhan rumah,dan bangunan. Beberapa warga telah menerima nasihat dari para pekerja bantuan untuk pergi ke tempat penampungan terdekat.Sebagian besar dari mereka telah berangkat sebelum ambulans,kendaraan militer,dan jip Palang Merah tiba di tempat kejadian. Mu bukanlah satu-satunya yang merana.

Di salah satu dari puluhan tenda yang didirikan di luar rumah sakit Yiliang City, dengan lampu yang menghangat wajahnya, Qing Liu,40, yang sedang bermain kartu dan makan mi instan dengan anakanaknya bercerita tentang kedahsyatan gempa itu. “Rumah itu bergoyang dihantam gempa dan saya memiliki empat anak.Saya tidak bisa bertahan lebih lama lagi.Kami telah mengalami gempa bumi dan itu sangat menakutkan,”ujar dia. Saat ini dia senang karena tidak lagi berada dalam kondisi yang berbahaya dan telah berkumpul bersama keluarganya.

Selain kepiluan akibat gempa,di sana cuaca merupakan perhatian utama diYiliang county.Ketika awan berkumpul di atas puncak gunung,laju eksodus warga terlihat mempercepat langkah mereka.“Ini akan segera turun hujan dan kondisi ini akan menjadi lebih buruk,” ujar seorang warga yang membawa dua tas besar. Banyak warga pergi menuju ke kota terdekat, Zhaotong,sementara yang lain berangkat ke Kota Yiliang. Keduanya menjadi tempat yang aman bagi keluarga yang terguncang.

Kendati hujan diperkirakan akan turun,masih ada sedikit warga yang bersedia untuk tetap tinggal dan mencari tahu apakah hujan itu akan membawa gelombang kehancuran kedua. SUSI SUSANTI