Selasa, 11 Desember 2012

AUSTRALIA TERSERANG WABAH FLU BURUNG: Unggas dan Bahan Baku Pakan Ternak dari Australia Dilarang Masuk RI

http://www.bisnis-kepri.com/show_image_NpAdvMainFea.php?filename=/2012/12/unggas-australia.jpg&cat=17&pid=8139&cache=falseJAKARTA: Pemerintah melarang impor produk unggas dan bahan baku pakan ternak asal Australia untuk sementara, menyusul adanya serangan wabah flu burung yang sering dikenal dengan avian influenza (H5N1) di negara itu pada pertengahan bulan lalu.

Menteri Pertanian Suswono mengirimkan surat resmi tentang pemberitahuan penghentian sementara impor produk unggas dan bahan baku pakan ternak asal Asutralia.



Serangan wabah flu burung itu terdeteksi pada 50.000 ekor ayam petelur di Australia pada pertengahan November 2012.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Ahmad Junaidi mengatakan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) soal pelarangan sementara impor produk unggas dan pakan ternak unggas asal Australia telah ditandatangani oleh Menteri Pertanian Suswono.

" Kementerian Pertanian telah mengirimkan surat tersebut kepada otoritas Pemerintah Australia untuk mendapatkan notifikasi soal kebijakan pelarangan impor produk unggas," ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/12/2012).

Dia menjelaskan pelarangan impor unggas itu akan berakhir sampai ada pengumuman dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties/OIE) yang menyatakan kalau Australia sudah terbebas dari flu burung.

Menurutnya, larangan impor produk unggas itu tidak termasuk untuk produk olahan, tetapi hanya untuk produk unggas yang belum diolah dan bahan baku pakan ternak. "Kalau belum final proses, itu dilarang, tetapi produk olahan diperbolehkan."

Serangan virus flu burung yang menyerang ayam petelur sebanyak 50.000 ekor di Wales Australia terjadi pada 22 November 2012. Outbreak flu burung di Australia itu telah mendorong puluhan negara menyetop impor unggas dari negara tersebut.

Beberapa negara untuk sementara menghentikan impor produk unggas dari Australia seperti Jepang, Papua Nugini, Belarusia, Kazakhstan, Selandia Baru, Afrika Selatan, Korea Selatan, Amerika Serikat, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengatakan serangan wabah flu burung di Australia itu harus ditindaklanjuti dengan penghentian sementara impor produk unggas dan pakan ternak asal Australia.

Menurutnya, selama ini Indonesia mengimpor bahan baku pakan ternak seperti tepung bulu, tepung tulang (meat bone meal/MBM), poultry product meal (PPM) yang selama ini diimpor dari Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.

Poultry Product Meal dibuat dari penggilingan bersih yang berisi bagian-bagian ayam yang gagal produksi yang dipotong dan diolah dengan anti oksidan segera setelah pemrosesan untuk menjamin stabilitas ternak. Dan berisi bulu yang tidak dapat dihindari dalam pengolahan bagian-bagian unggas.

Feather Meal dan Hydrolized Feather Meal atau yang disebut dengan tepung bulu terbuat dari bulu unggas yang dihidrolisis di bawah panas dan tekanan tinggi dan kemudian digiling.

Sudirman menambahkan Australia merupakan negara besar yang terdiri dari beberapa negara bagian. Artinya, serangan wabah flu burung itu terjadi di satu kawasan saja, sehingga tidak seluruh wilayah Australia terserang oleh virus flu burung.

Namun, berdasarkan UU No. 18/2009 tentang Peternakan, Indonesia menganut prinsip country base bukan zone base. Artinya, impor produk ternak hanya diperbolehkan dari negara yang sudah terbebas oleh penyakit hewan (country base). Impor produk hewan dilarang dari negara negara yang masih memiliki wabah penyakit di satu kawasan tertentu negara tersebut (zone base). (bas)(Foto:stockjournal.com.au)
Sumber : bisnis.com