Rabu, 03 Februari 2016

Tekan Harga Pakan Ayam, Bulog Beli Jagung Impor yang Tertahan di Pelabuhan

http://www.bulog.co.id/images/logoperumbulog.jpgJAKARTA, (PRLM).- Agar kenaikan harga ayam tak berlanjut, Menteri Perdagangan Thomas Lembong memfasilitasi pertemuan yang menghadirkan Dirut Perum Bulog, para peternak skala UMKM mandiri, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), sekaligus importir jagung.
Hasilnya disepakati impor jagung sebanyak 445.500 ton yang saat ini tertahan di sejumlah pelabuhan di Medan, Semarang, Banten, dan Jawa Barat akan dibeli Perum Bulog dan segera disalurkan ke peternak yang membutuhkan jagung sebagai bahan baku pakan ternak.
Hal ini diharapkan dapat mengakhiri ketidakpastian mengenai kelanjutan dari impor jagung yang sebagian telah memasuki pelabuhan wilayah Indonesia tersebut.
"Sudah disepakati pembelian atau pengalihan sebanyak 445.500 ton dari beberapa importir ke Perum Bulog. Kemendag juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar jagung impor yang tertahan di sejumlah pelabuhan tersebut dapat keluar dan dibeli oleh/dialihkan ke Perum Bulog. Saya harapkan melalui cara ini akan mampu menurunkan kenaikan harga jagung pakan dan akan mengurangi dampaknya terhadap kenaikan harga daging ayam yang saat ini masih terjadi," tegas Mendag Tom usai pertemuan, di Jakarta, Jumat (29/1/2016).
Harga daging ayam mengalami kenaikan cukup signifikan di sejumlah daerah. Harga daging ayam rata-rata nasional saat ini Rp 33.237 per kg, naik Rp 4.452 atau 15,46 persen dari Oktober 2015 sebesar Rp 28.785 per kg. Penyebab kenaikan ini diduga akibat harga pakan ternak, antara lain jagung yang pasoknya kurang dan susah diperoleh. Jagung merupakan komponen dominan dalam pakan ternak (50 persen).
Perum Bulog dan pelaku usaha sangat menghargai inisiatif dan langkah Mendag yang mampu menjadi penengah sehingga berbagai pihak dapat mencapai kesepakatan dimana jagung dapat mencapai wilayah RI dan peternak ayam bisa mendapatkan kepastian pasokan bahan baku pakan untuk usaha peternakan ayam dan telurnya.
Menurut catatan Kementerian Perdagangan, sejak November 2015 hingga Januari 2016, harga jagung naik hingga 100 persen, dari Rp 3.000 menjadi Rp 6.000. Kenaikan harga jagung ini diduga akibat seretnya pasokan jagung ke industri pakan ternak. Permintaan jagung dari industri pakan ternak tetap tinggi.
Menurut Tom Lembong, demikian Mendag akrab disapa, kenaikan harga jagung untuk pakan ternak akhir-akhir ini mengindikasikan adanya kekurangan pasokan atau terjadi kelangkaan. Neraca produksi jagung hanya menggambarkan kondisi ketersediaan jagung tanpa melihat jenis dan kebutuhan penggunanya, padahal terdapat perbedaan spesifikasi/jenis jagung yang akan dipergunakan untuk pakan, konsumsi ataupun keperluan industri lainnya. Jagung lokal dengan spesifikasi kebutuhan pakan sebenarnya tersedia namun lokasinya di daerah-daerah yang terpencar dan tidak berdekatan dengan lokasi pabrik pakan.
"Sejak November silam, pemerintah telah melakukan rapat koordinasi terbatas antarkementerian untuk mengantisipasi meroketnya harga jagung ini," ujarnya.
Kementerian Perdagangan saat ini belum mengatur tata niaga impor jagung (dibebaskan). Itu artinya perdagangan ekspor impor maupun perdagangan di dalam negeri tidak ada hambatan. Impor jagung hanya mengikuti ketentuan prosedur kepabeanan dan karantina dalam rangka keamanan pangan.
“Ke depan, kebijakan tata niaga dan ketersediaan jagung akan diatur secara komprehensif, bukan hanya untuk kepentingan sesaat tetapi menyeluruh serta seimbang antara kepentingan produsen/ petani, pedagang, dan peternak sebagai konsumen jagung,” tegas Mendag. (kemendag/A-88)

Sumber : pikiran rakyat